Rabu, 27 April 2011

Pengaruh Biaya Kualitas terhadap Tingkat Pertumbuhan Penjualan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Biaya Kualitas
2.1.1.1 Pengertian Biaya
Dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen akan hasil produksi, perusahaan memerlukan biaya yang harus dikeluarkan berupa biaya langsung maupun tidak langsung, sehingga perusahaan yang menghasilkan produk memerlukan biaya untuk melakukan aktivitasnya. Informasi biaya membantu manajemen dalam menjalankan fungsinya untuk mengelola perusahaan, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat di efisiensikan untuk mendapatkan laba yang besar. Karena semakin kecilnya biaya yang dikeluarkan maka semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan, terutama biaya yang berhubungan dengan kualitas produk.
Dalam melakukan aktivitasnya, perusahaan tidak terlepas dari biaya karena biaya merupakan sebuah pengorbanan yang diukur dengan satuan uang yang mesti dikeluarkan untuk mendapatkan barang atau jasa.
Menurut M. Munandar (2001:250) mengemukakan bahwa: “Biaya adalah biaya yang terdiri dari bahan-bahan yang dikerjakan didalam proses produksi, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya akan dijual”.
Biaya dalam arti luas adalah penggunaan sumber-sumber ekonomi yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk objek atau tujuan tertentu (Mardiasmo, dalam Melaniawati, 2010 : 9).
Menurut Mulyadi (dalam Mela Melaniawati, 2010 : 9) menyatakan bahwa: “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut Henry Simamora (1999:36) pengertian biaya adalah sebagai berikut:
Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada saat ini atau dimasa mendatang bagi organisasi. Disebut setara kas karena sumber-sumber daya kas dapat ditukarkan dengan barang atau jasa yang dikehendaki.

Charles T. Hongren (dalam Mela Melaniawati, 2010 : 9), menyatakan bahwa: “Biaya (cost) sebagai suatu sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut Don R. Hansen (dalam Mela Melaniawati, 2010 : 9) menyatakan bahwa: “Biaya sebagai kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau dimasa yang akan datang bagi organisasi”.
Lebih lanjut Supriyono (2000:16) menyatakan bahwa: “Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan”.
Selanjutnya menurut Masiyah Kholmi (dalam http://tryusnita.wordpress.com/2009/05/06/biaya-berbagai-macam-pengertian-biaya/ ) bahwa: “Biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan”.
Dari beberapa pengertian biaya yang didefinisikan oleh para pakar maka penulis dapat simpulkan bahwa biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi dalam satuan rupiah untuk menghasilkan atau mendapatkan tujuan tertentu dimasa mendatang.

2.1.1.2 Penggolongan Biaya
Penggolongan biaya berdasarkan aktivitas perusahaan menurut Henry Simamora (1999:3) adalah sebagai berikut:
a.Klasifikasi biaya dalam perusahaan pabrikasi:
a.C.1.Biaya Pabrikasi
a.C.2.Biaya Non Pabrikasi
b.klasifikasi biaya dalam perusahaan dagang
c.Klasifikasi biaya dalam dalam perusahaan jasa
Penjelasan mengenai penggolongan biaya berdasarkan aktivitasnya adalah sebagai berikut:
a.Klasifikasi biaya dalam perusahaan pabrikasi:
1.Biaya Pabrikasi. Perusahaan pabrikasi kegiatan utamanya mengolah bahan baku menjadi bahan jadi yang siap untuk dijual, melalui usaha tenaga kerja. Biaya pabrikasi pada umumnya terbagi dalam tiga komponen yaitu: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.


2.Biaya Non Pabrikasi. Biaya non pabrikasi (Non manufacturing cost) dimana biaya yang dikeluarkan tidak dapat dikaitkan atau dibebankan kepada sebuah produk manufaktur. Pada prinsipnya biaya non pabrikasi digolongkan kedalam dua kategori yaitu: biaya pemasaran serta biaya administrasi dan umum.
b.klasifikasi biaya dalam perusahaan dagang
dalam perusahaan dagang, biaya produki adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang dagangan dan menjualnya kembali kepada para langganannya.
c.Klasifikasi biaya dalam dalam perusahaan jasa
Dalam perusahaan jasa, biaya produk dikatakan sebagai biaya jasa yang meliputi biaya tenaga kerja, keperluan kantor, dan biaya lainnya yang berkaitan langsung dengan penyerahan jasa kepada pelanggan.
Menurut Supriono (2000:18) penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan atau aktivitas perusahaan, dikelompokan menjadi :
1.Biaya produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai.
2.Biaya pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai.
3.Biaya administrasi dan umum, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum.
4.Biaya keuangan, adalah semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan fungsi keuangan.

Sedangkan menurut Mulyadi (2005:13) biaya dapat digolongkan kedalam lima golongan yaitu:
1.Penggolongan biaya menurut objek pengeluarannya
2.Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan
a.Biaya produksi
b.Biaya pemasaran
c.Biaya administrasi dan umum
3.Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
a.Biaya langsung
b.Biaya tidak langsung
4.Penggolongan biaya menurut prilaku hanya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan
a.Biaya variabel
b.Biaya semi variabel
c.Biaya tetap
5.Penggolongan biaya menurut jangka waktu manfaatnya dapat dibagi menjadi dua:
a.i.1.Pengeluaran modal
a.i.2.Pengeluaran pendapatan

Penjelasan mengenai penggolongan biaya adalah sebagai berikut:

1.i.1.Penggolongan biaya menurut objek pengeluarannya
Dengan cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Seperti nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”.
1.i.2.Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan
Penggolongan biaya ini dalam perusahaan dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.Biaya produksi. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi yang siap untuk dijual.
Contohnya: biaya bahan penolong, biaya bahan baku, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian baik yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan proses produksi.
b.Biaya pemasaran. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
Contohnya: biaya iklan, biaya promosi, gaji karyawan bagian pemasaran.
c.Biaya administrasi dan umum. Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.
Contohnya: biaya gaji karyawan keuangan, akuntansi, personalia, dan bagian humas, biaya pemeriksa akuntan, biaya fotocopy.
1.i.3.Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.

Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokan kedalam dua kelompok, yaitu:
a.Biaya langsung, merupakan biaya yang terjadi dan penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Contohnya: gaji bulanan dari manajer divisi tertentu dimana divisi merupakan objek biaya, maka gaji tersebut merupakan biaya langsung divisi tersebut.
b.Biaya tidak langsung, merupakan biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Contoh: asuransi gedung bagi departemen produksi yang dibayar untuk seluruh gedung dan departemen produksi yang dibayar yang debebani, maka biaya asuransi gedung bagi departemen produksinya adalah biaya tidak langsung.
1.i.4.Penggolongan biaya menurut prilaku hanya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

a.Biaya variabel, merupakan biaya yang jumlah totalnya berubah-ubah secara proporsional dengan volume kegiatan.
b.Biaya semi variabel, merupakan biaya yang berubah dengan adanya perubahan volume atau kapasitas tetapi tidak proporsional dengan perubahan volume.
c.Biaya tetap, merupakan biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran kegiatan tertentu.
1.i.5.Penggolongan biaya menurut jangka waktu manfaatnya dapat dibagi menjadi dua:

1.Pengeluaran modal, merupakan biaya yang mempunyai manfaat lebiah dari satu periode akuntansi. Contohnya: pengeluaran untuk pembelian aktiva, untuk investasi, untuk riset dan pengembangan produk.
2.Pengeluaran pendapatan, merupakan pengeluaran yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tertentu. Pada saat terjadinya pengeluaran pendapatan ini dibebankan sebagai biaya tertentu. Contohnya: biaya pengeluaran pendapatan antara lain biaya iklan, biaya telepon, dan biaya tenaga kerja.
Menurut Haryanto, (dalam Melaniawati, 2010) bahwa biaya secara lebih luas dalam suatu perusahaan dapat dibedakan menjadi :
1.Biaya Tetap (Fixed Cost)
a.Biaya tetap total (total fixed cost),
b.Biaya tetap rata-rata (average fixed cost).
2.Biaya Variabel (Variabel Cost)
a.Biaya variabel total (total variabel cost),
b.Biaya variabel rata-rata (average variabel cost).
3.Biaya Total (Total Cost)
4.Biaya Rata-Rata (Average Cost)
5.Biaya Marginal (Marginal Cost)
Penjelasan mengenai biaya secara lebih luas adalah sebagai berikut:

1.Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap merupakan biaya yang dalam kurun waktu tertentu jumlahnya tetap dan tidak berubah. Biaya ini tidak tergantung dari banyak sedikitnya barang atau output yang dihasilkan. Misalnya biaya gaji pegawai tetap, manajer, sewa tanah, penyusutan mesin, bunga pinjaman bank. Biaya tetap ini dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a.Biaya tetap total (total fixed cost), merupakan jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam jumlah tetap dalam jangka waktu tertentu.
b.Biaya tetap rata-rata (average fixed cost), merupakan biaya tetap yang dibebankan pada setiap satuan output yang dihasilkan.
2.Biaya Variabel (Variabel Cost)
Biaya variabel merupakan pengeluaran yang jumlahnya tidak tetap atau berubah-ubah sesuai dengan jumlah output yang dihasilkan. Dalam hal ini, semakin banyak jumlah produk yang dihasilkan, semakin besar pula biaya variabelnya. Misalnya biaya bahan baku, bahan pembantu, bahan bakar, dan upah tenaga kerja langsung. Biaya variabel ini dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a.Biaya variabel total (total variabel cost), merupakan seluruh biaya yang harus dikeluarkan selama masa produksi output dalam jumlah tertentu.
b.Biaya variabel rata-rata (average variabel cost), merupakan biaya variabel yang dikeluarkan untuk setiap unit output.
3.Biaya Total (Total Cost)
Biaya total merupakan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi semua output, baik barang maupun jasa. Biaya ini dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya tetap total dengan biaya variabel total.
4.Biaya Rata-Rata (Average Cost)
Biaya rata-rata merupakan biaya total yang dikeluarkan untuk setiap unit output.
5.Biaya Marginal (Marginal Cost)
Biaya marginal merupakan kenaikan dari biaya total yang diakibatkan oleh diproduksinya tambahan satu unit output.

2.1.1.3 Pengertian Kualitas
Banyak kriteria atau ukuran kualitas yang bervariasi dan cenderung terus dapat berubah sepanjang waktu, maka tidaklah mudah untuk mendefinisikan kualitas secara tepat. Kualitas secara konvensional menggambarkan kharakteristik langsung dari suatu produk seperti performance, kehandalan, mudah dalam penggunaan, dan estetika. Sedangkan definisi kualitas secara strategic adalah sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gaspersz, dalam Saputro, 2010 : 24)
Menurut Tjiptono (dalam Saputro, 2010 : 24) mengemukakan bahwa: “Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. Konsep kualitas itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifikasi produk, sedangkan kualitas kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh suatu produk mampu memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan.
Menurut Kotler (1997:57) mengemukakan bahwa: “Kualitas pelayanan harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan”. Ini berarti bahwa kualitas yang baik bukan dilihat dari penyedia jasa, melainkan berdasar pada persepsi pelanggan. Dari pengertian tersebut, bahwa kualitas selalu berfokus pada pelanggan. Dengan demikian produk atau jasa yang didesain, diproduksi dan ditawarkan serta pelayanan yang diberikan untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Kualitas berfokus pada kepuasan konsumen, perlu dipahami komponen-komponen yang berkaitan dengan kepuasan konsumen itu. Pada dasarnya kepuasan konsumen dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu keadaan dimana kebtuhan, keinginan, dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk yang dikonsumsi. Dari pengertian kualitas diatas penulis dapat simpulkan bahwa kualitas adalah kesesuaian atau sesuatu yang mampu memenuhi atau melebihi keinginan atau harapan (Gasversz, 2003: 13).
Jadi dari pengertian kualitas yang dikemukakan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kualitas adalah suatu kondisi yang berhubunga dengan produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sesuai dengan harapan.

2.1.1.4 Perspektif Kualitas
Tjiptono (dalam Saputro, 2010: 24) mengatakan ada lima macam perspektif kualitas yang berkembang. Kelima macam perspektif inilah yang bisa menjelaskan mengapa kualitas bisa diartikan secara beranekaragam oleh orang yang berbeda dalam situasi yang berlainan. Adapun kelima macam perspektif kualitas tersebut meliputi:
c.C.1.Transcendental approach
c.C.2.Product-based approach
c.C.3.User-based approach
c.C.4.Manufacturing-based approach
c.C.5.Value-based approach

Penjelasan mengenai persfektif kualitas adalah sebagai berikut:

1. Transcendental approach
Dalam pendekatan ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, dimana kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalisasikan. Dengan demikian fungsi perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu perusahaan sulit sekali menggunakan definisi seperti ini sebagai dasar manajemen kualitas.
2. Product-based approach
Pendekatan ini menganggap bahwa kualitas merupakan karakteristik atau atribut yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur. Perbedaan dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah dan beberapa unsur atau atribut yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual.
3. User-based approach
Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya, sehingga produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (misalnya perceived quality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang subjektif dan demand-oriented ini juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya.
4. Manufacturing-based approach
Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama memperhatikan praktikpraktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian/sama dengan persyaratan (conformance to requirement). Dalam sector jasa dapat dikatakan bahwa kualitasnya bersifat operationsdriven. Pendekatan ini berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal, yang seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktifitas dan penekanan biaya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya.
5. Value-based approach
Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan sebagai “affordable-excellence”. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah barang atau jasa yang paling tepat dibeli (best-buy). Tjiptono (dalam Saputro, 2010 : 25) menambahkan bahwa kualitas yang superior dapat memberikan manfaat antara lain berupa:
1. loyalitas pelanggan yang lebih besar
2. pangsa pasar yang lebih besar
3. harga saham yang lebih tinggi
4. harga jual yang lebih tinggi
5. produktifitas yang lebih besar

Jadi perusahaan yang menawarkan barang atau jasa berkualitas superior akan dapat mengalahkan pesaingnya yang menghasilkan kualitas inferior.

2.1.1.5 Pengertian Kualitas Produk
Produk didefinisikan sebagai apa saja yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan.
Produk yang ditawarkan dapat meliputi barang fisik, jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi, dan ide. Jadi, produk bisa berupa manfaat tangible maupun intangible yang dapat memuaskan pelanggan. Secara konseptual, produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu” yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya. Secara lebih rinci, konsep produk total meliputi barang, kemasan, merek, label, pelayanan, dan jaminan. (Tjiptono, dalam Saputro, 2010 : 27).
Menurut Kotler dan Keller (2009 : 143) mengemukakan bahwa: “Kualitas produk atau jasa adalah produk atau jasa yang telah memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan”.
Sedangkan menurut American Society for Quality Contor, (dalam Kotler dan Keller, 2007 : 180) menyatakan bahwa: “Mutu produk atau jasa adalah keseluruhan fitur dan sifat produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat”.
Kotler dan Amstrong (dalam Saputro, 2010: 27) mengemukakan bahwa: “Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan operasi, dan perbaikan produk, serta atribut bernilai lainnya”. Sementara Kotler (dalam Saputro, 2010 : 27) berpendapat bahwa mutu produk dipakai untuk menyatakan tingkat kemampuan kerja suatu produk sesuai spesifikasi yang dijanjikan.
Dari pengertian kualitas produk di atas penulis dapat simpulkan bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam menjalankan fungsi, kegunaan, ketahanan yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen seperti yang telah dijanjikan dan dapat memenuhi ekspektasi pelanggan.

2.1.1.6 Pengukuran Kualitas Produk
John Sviokla seperti yang dikutip oleh Lupiyoadi (dalam Saputro, 2010: 28) mengemukakan bahwa kualitas suatu produk memiliki delapan dimensi pengukuran yang terdiri dari aspek-aspek berikut:
b.1.Kinerja (Performance)
b.2.Keragaman produk (Features)
b.3.Kehandalan (Reliability)
b.4.Kesesuaian (Conformance)
b.5.Daya tahan/ketahanan (Durability)
b.6.Kemampuan pelayanan (Serviceability)
b.7.Estetika (Aesthetics)
b.8.Kualitas yang dipersepsikan (Perceive quality)

Penjelasan mengenai dimensi pengukuran kualitas produk adalah sebagai berikut:
1. Kinerja (Performance)
Kinerja disini merujuk pada karakter produk inti yang meliputi merek, atributatribut yang dapat diukur, dan aspek-aspek kinerja individu. Kinerja beberapa produk biasanya didasari oleh preferensi subjektif pelanggan yang pada dasarnya bersifat umum (universal).
2. Keragaman produk (Features)
Dapat berbentuk produk tambahan dari suatu produk inti yang dapat menambah nilai suatu produk. Features suatu produk biasanya diukur ecara subjektif oleh masing-masing individu (dalam hal ini konsumen) yang menunjukkan adanya perbedaan kualitas suatu produk. Dengan demikian perkembangan kualitas suatu produk menuntut karakter fleksibilitas agar dapat menyesuaikan diri dengan permintaan pasar.
3. Kehandalan (Reliability)
Dimensi ini berkaitan dengan timbulnya kemungkinan suatu produk mengalami keadaan tidak berfungsi (malfunction) pada suatu periode. Kehandalan suatu produk yang menandakan tingkat kualitas sangat berarti bagi konsumen dalam memilih produk. Hal ini menjadi semakin penting mengingat besarnya biaya penggantian dan pemeliharaan yang harus dikeluarkan apabila produk yang dianggap tidak reliable mengalami kerusakan.
4. Kesesuaian (Conformance)
Dimensi lain yang berhubungan dengan kualitas suatu barang adalah kesesuaian produk dengan standar dalam industrinya. Kesesuaian suatu produk dalam industri jasa diukur dari tingkat akurasi dan waktu penyelesaian termasuk juga perhitungan kesalahan yang terjadi, keterlambatan yang tidak dapat diantisipasi dan beberapa kesalahan lain.
5. Daya tahan/ketahanan (Durability)
Ukuran ketahanan suatu produk meliputi segi ekonomis maupun teknis. Secara teknis, ketahanan suatu produk didefinisikan sebagai sejumlah kegunaan yang diperoleh oleh seseorang sebelum mengalami penurunan kualitas. Secara ekonomis, ketahanan diartikan sebagai usia ekonomis suatu produk dilihat melalui jumlah kegunaan yang diperoleh sebelum terjadi kerusakan dan keputusan untuk mengganti produk.
6. Kemampuan pelayanan (Serviceability)
Kemampuan pelayanan bisa juga disebut dengan kecepatan, kompetensi, kegunaan, dan kemudahan produk untuk diperbaiki. Dimensi ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya memperhatikan adanya penurunan kualitas produk tetapi juga waktu sebelum produk disimpan, penjadwalan pelayanan, proses komunikasi dengan staff, frekuensi pelayanan perbaikan akan kerusakan produk dan pelayanan lainnya. Variabel-variabel tersebut dapat merefleksikan adanya perbedaan standar perorangan mengenai pelayanan yang diterima. Dimana kemampuan pelayanan suatu produk tersebut menghasilkan kesimpulan akan kualitas produk yang dinilai secara subjektif oleh konsumen.
7. Estetika (Aesthetics)
Merupakan dimensi pengukuran yang paling subjektif. Estetika suatu produk dilihat melalui bagaimana suatu produk terdengar oleh konsumen, bagaimana tampak luar suatu produk, rasa, maupun bau. Jadi estetika jelas merupakan penilaian dan refleksi yang dirasakan oleh konsumen.
8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceive quality)
Konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai atributatribut produk dan jasa. Namun demikian, biasanya konsumen memiliki informasi tentang produk secara tidak langsung, misalnya melalui merek, nama dan negara produsen. Ketahanan produk misalnya, dapat menjadi sangat kritis dalam pengukuran kualitas produk.
Sedangkan menurut David Garvin (dalam Gaspersz, 2003: 119) menyatakan delapan dimensi kualitas kualitas produk sebagai berikut:
1.Performansi (Performance)
2.Features
3.Keandalan (Reliability)
4.Konformans (Conformance)
5.Durabilitas (Durability)
6.Kemampuan Pelayanan (Serviceability)
7.Estetika (Aesthetics)
8.Kualitas yang dirasakan (Perceived Quality)

Penjelasan mengenai delapan demensi kualitas produk adalah sebagai berikut:
1.Performansi (Performance)
Berkaitan denga aspek fungsional dari produk itu dam merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan konsumen ketika ingin membeli suatu produk. Misalnya, performansi dari produk TV berwarna adalah memiliki gambar yang jelas, performansi dari produk mobil adalah akselerasi, kecepatan, kenyamanan dan pemeliharaan, performansi dari penerbangan adalah ketepatan waktu, dan lain-lain.
2.Features
Merupakan aspek kedua dari performansi yang menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilahn-pilihan dan pengembangannya. Misalnya, features untuk penerbangan adalah memberikan minuman atau makanan gratis dalam pesawat, pembelian tiket melalui telepon dan penyerahan dirumah, pelaporan keberangkatan dikota dan diantar kelapangan terbang. Features dari produk mobil seperti atap yang dapat dibuka, dan lain-lain. Sering kali terdapat kesulitan untuk memisahkan karakteristik performansi dan features. Biasanya mendefinisikan nilai dalam bentuk flessibilitas dan kemampuan mereka untuk memilih features yang ada, juga kualitas dari features itu.
3.Keandalan (Reliability)
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu produk melaksanakan fungsinya secara berhasil dalam periode waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. Dengan demikian keandalan merupakan karakteristik yang merefleksikan kemungkinan probabilitas tingkat keberhasilan dalam penggunaan produk itu.
4.Konformans (Conformance)
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan konsumen. Konformans merefleksikan derajat dimana karakteristik desain produk dan karakteristik operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sering didefinisikan sebagai konformans terhadap kebutuhan.

5.Durabilitas (Durability)
Merupakan ukuran masa pakai suatu produk. Karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan dari produk itu. Misalnya, konsumen akan membeli ban mobil berdasarkan daya tahan ban itu dalam penggunaan, sehingga ban-ban mobil yang memiliki masa pakai yang lebih panjang tentu merupakan salah satu karakteristik kualitas produk yang akan dipertimbangkan oleh konsumen ketika akan membeli suatu produk ban.
6.Kemampuan Pelayanan (Serviceability)
Merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, keramahan/kesopanan, kompetensi, dan kemudahan serta akurasi dalam perbaikan. Misalnya, ketika menjumpai saat ini bahwa banyak perusahaan otomotif yang memberikan pelayanan perawatan atau perbaikan mobil sepanjang hari (24 jam), atau permintaan pelayanan melalui telepon dan perbaikan mobil dilkukan dirumah.
7.Estetika (Aesthetics)
Merupakan karakteristik yang bersifat subyektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dan preferensi individual. Dengan demikian estetika dari suatu produk lebih banyak berkaitan dengan perasaan pribadi dan mencakup karakteristik tertentu, seperti : keelokan, kemulusan, suara yang merdu, selera, dan lain-lain.
8.Kualitas yang dirasakan (Perceived Quality)
Bersifat subyektif berkaitan dengan perasaan konsumen dalam mengkonsumsi produk itu, seperti: meningkatkan harga diri, dan lain-lain. Merupakan karakteristik yang berkaitan dengan reputasi (brand name, image). Misalnya, seseorang akan membeli produk elektronik merk Sony karena memiliki reputasi bahwa produk-produk bermerk sony adalah berkualitas, meskipun orang-orang belum pernah menggunakan produk-produk bermerk sony.

2.1.1.7 Pengertian Biaya Kualitas
Dengan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas, maka perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya kualitas. Apabila akan mempertahankan hasil produksinya. Definisi dari biaya kualitas itu sendiri banyak di kemukakan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut:
Menurut Hansen & Mowen yang diterjemahkan oleh Ancella A. Hermawan (2000 : 7) mendefinisikan bahwa: “Biaya mutu (cost of quality) adalah biaya yang timbul karena mungkin atau telah di hasilkan produk yang rendah mutunya”.
Menurut Amin Widjaja Tunggal (2009 : 786) mendefinisikan bahwa: “Biaya kualitas adalah biaya yang muncul karena produk dapat atau pada kenyataanya gagal memenuhi spesifikasi desain (dan karenanya berkaitan dengan kesesuaian kualitas)”.
Sedangkan Fandy Tjiptono & Anastasia Diana (2000 : 34) mendefinisikan biaya kualitas sebagai berikut:
Biaya kualitas adalah biaya yang terjadi atau mungkin akan terjadi karena kualitas yang buruk, dan biaya kualitas juga dapat dikatakan biaya yang berhubungan dengan penciptaan, pengidentifikasian, perbaikan, dan pencegahan kerusakan.

Definisi di atas mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua sub kategori dari dua kekuatan yang terkait dengan mutu yaitu kegiatan pengendalian dan kegiatan produk gagal. Kegiatan pengendalian dilaksanakan oleh suatu organisasi untuk mencegah atau mendeteksi kualitas produk rendah. Dengan demikian biaya kualitas meliputi biaya pengendalian kualitas dan biaya produk gagal. Biaya pengendalian kualitas adalah biaya yang di keluarkan oleh perusahaan untuk menjalankan kegiatan pengendalian kualitas yang meliputi biaya pencegahan, biaya penilaian. Sedangkan biaya produk gagal merupakan biaya yang di keluarkan oleh perusahaan karena terjadi kegiatan produk gagal yang terdiri dari biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal.

2.1.1.8 Komponen-Komponen Biaya Kualitas
Menurut Fandy Tjiptono & Anastasia Diana (2000: 34) biaya kualitas dapat dikelompokan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu sebagai berikut:
(1)Biaya pencegahan
Biaya pencegahan adalah biaya yang terjadi untuk mencegah kerusakan produk yang dihasilkan, biaya ini meliputi biaya yang berhubungan dengan perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan sistem kualitas.
(2)Biaya Penilaian
Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa sesuai dengan persyaratan-persyaratan kualitas.

(3)Biaya Kegagalan Internal
Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi karena ada ketidaksesuaian dan persyaratan dan terdeteksi sebelum barang atau jasa tersebut dikirimkan ke pihak luar atau konsumen.
(4)Biaya kegagalan eksternal
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi karena produk gagal tidak memenuhi persyaratan yang diketahui setelah produk tersebut dikirimkan kepada konsumen.
Adapun menurut Blocher. et, al., yang di terjemahkan oleh A. Susty Ambarriani (2000 : 220) biaya kualitas dibagi dalam empat komponen yaitu:
1.Biaya pencegahan yaitu biaya yang timbul untuk mencegah produksi produk-produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, yang bertujuan untuk menurunkan kuantitas produk yang tidak memenuhi spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan sehingga dapat menurunkan biaya kegagalan.misalnya biaya pencegahan adalah biaya pelatihan kualitas, perencanaan kualitas, pemeliharaan kualitas, biaya inspeksi bahan baku dan biaya pemeliharaan peralatan produksi, gaji bagian produksi dan gaji bagian laboratorium.
2.Biaya penilaian yaitu biaya-biaya yang terjadi dalam mendeteksi produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dan tujuan utama fungsi penilaian untuk mencegah pengiriman barang-barang yang itdak sesuai dengan persyaratan kepada pelanggan. Misalnya, biaya penilaian adalah biaya pengujian dan inspeksi, biaya pemeliharaan peralatan pengujian, dan gaji bagian quality control.
3.Biaya kegagalan internal yaitu biaya-biaya yang terjadi ketika produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi dapat dideteksi sebelum dikirim ke konsumen. Misalnya biaya kegagalan internal adalah biaya tindakan koreksi, biaya pengerjaan kembali, biaya proses, biaya inspeksi dan pengujian ulang.
4.Biaya kegagalan eksternal yaitu biaya-biaya yang terjadi ketika produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi dideteksi setelah dikirim ke konsumen. Misalnya biaya-biaya kegagalan eksternal adalah biaya bahan baku yang dikelola kembali, biaya transport atas penarikan kembali produk gagal dan penjualan yang hilang karena produk yang tidak memuaskan.

2.1.1.9 Manfaat Informasi Biaya Kualitas
Informasi biaya kualitas diperlukan untuk menolong para manajer pengontrol kinerja kualitas dan untuk menjadi input bagi pengambilan keputusan, digunakan untuk mengevaluasi keseluruhan kinerja dari program perbaikan kualitas, dan digunakan untuk membantu memperbaiki berbagai keputusan manajerial (Amin Widjaja Tunggal, 2009: 787).
Adapun menurut Fandy Tjiptono & Anastasia Diana (2000 : 40) informasi biaya kualitas dapat memberikan berbagai macam manfaat antara lain dapat di gunakan untuk:
1.Mengidentifikasi peluang laba (penghematan biaya dapat meningkatkan laba).
2.Mengambil keputusan capital budgeting dan keputusan infestasi lainnya.
3.Menekankan biaya pembelian dan biaya yang berkaitan dengan pemasok.
4.Mengidentifikasi pemborosan dalam aktifitas yang tidak di kehendaki oleh para pelanggan.
5.Mengidentifikasi sistem yang berlebihan.
6.Menentukan apakah biaya kualitas telah di distribusikan secara tepat.
7.Penentuan dalam anggaran dan perencanaan laba
8.Mengidentifikasi masalah-masalah kualitas
9.Dijadikan sebagai alat manajemen untuk ukuran perbandingan tentang hubungan masukan dan keluaran.
10.Dijadikan sebagai alat manajemen strategi untuk mengalokasikan sumber daya dalam perumusan dan pelaksanaan strategi.
11.Dijadikan sebagai ukuran penilaian kinerja yang objektif.


2.1.2 Tingkat Pertumbuhan Penjualan
2.1.2.1 Pengertian Penjualan
Penjualan merupakan sumber hidup suatu perusahaan, karena dari penjualan dapat diperoleh laba serta suatu usaha memikat konsumen yang diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka sehingga dapat mengetahui hasil produk yang dihasikan. Penjualan dalam lingkup kegiatan, sering disalahartikan dengan pengertian pemasaran. Penjualan dalam lingkup ini lebih berarti tindakan menjual barang atau jasa. Kegiatan pemasaran adalah penjualan dalam lingkup hasil atau pendapatan berarti penilaian atas penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode.
Adapun pengertian penjualan menurut Soemarso (2002:226) bahwa: “Penjualan adalah jumlah yang dibebankan kepada pembeli karena penjualan barang dan jasa baik secara kredit maupun tunai”.
Sedangkan menurut Marwan (dalam Silviawati, 2010: 28), mengemukakan bahwa: “Penjualan adalah suatu usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba”.
Sedangkan menurut Winardi (dalam Silviawati, 2010:28) mengemukakan bahwa: “Penjualan adalah suatu transfer hak atas benda-benda”.
Dari penjelasan tersebut dalam mentransfer barang atau jasa diperlukan orang-orang yang bekerja dibidang penjualan seperti, pelaksanaan dagang, agen, wakil pelayanan dan wakil pemasaran.
Dari definisi penjualan diatas dapat penulis simpulkan bahwa penjualan adalah sumber hidup perusahaan untuk melakukan aktivitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, guna untuk menghasilkan laba.

2.1.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Penjualan
Menurut Swastha dan Irawan, (dalam Silviawati, 2010) dalam praktek, kegiatan penjualan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut:
1.Kondisi dan kemampuan penjual
Transaksi jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang dan jasa itu pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjual sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Disini penjual harus dapat menyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan.untuk maksud tersebut penjual harus memahami beberapa masalah penting yang sangat berkaitan, yakni:
a. Jenis dan karakteristik barang yang di tawarkan
b. Harga produk
c. Syarat penjualan seperti: pembayaran, penghantaran, pelayanan sesudah penjualan, garansi dan sebagainya
2.Kondisi pasar
Pasar, sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualannya. Adapun faktor-faktor kondisi pasar yang perlu di perhatikan adalah:
a. Jenis pasarnya
b. Kelompok pembeli atau segmen pasarnya
c. Daya belinya
d. Frekuensi pembelian
e. Keinginan dan kebutuhan
3.Modal
Akan lebih sulit bagi penjualan barangnya apabila barang yang dijual tersebut belum dikenal oleh calon pembeli, atau apabila lokasi pembeli jauh dari tempat penjual. Dalam keadaan seperti ini, penjual harus memperkenalkan dulu, membawa barangnya ketempat pembeli. Untuk melaksanakan maksud tersebut diperlukan adanya sarana serta usaha, seperti: alat transport, tempat peragaan baik didalam perusahaan maupun di luar perusahaan, usaha promosi, dan sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjualan memiliki sejumlah modal yang diperlukan untuk itu.



4.Kondisi perusahaan
Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri (bagian penjualan) yang dipegang orang-orang tertentu/ahli di bidang penjualan.
5.Faktor lain
Faktor-faktor lain, seperti: periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah, sering mempengaruhi penjualan. Namun untuk melaksanakannya, diperlukan sejumlah dana yang tidak sedikit. Bagi perusahaan yang bermodal kuat, kegiatan ini secara rutin dapat dilakukan. Sedangkan bagi perusahaan kecil yang mempunyai modal relatif kecil, kegiatan ini lebih jarang dilakukan. Ada pengusaha yang berpegangan pada suatu prinsip bahwa "paling penting membuat barang yang baik". Bilamana prinsip tersebut dilaksanakan, maka diharapkan pembeli akan kembali membeli lagi barang yang sama. Namun, sebelum pembelian dilakukan, sering pembeli harus dirangsang daya tariknya, misalnya dengan memberikan bungkus yang menarik atau dengan cara promosi lainnya.
Menurut Basu Swasta (2000: 422) faktor – faktor yang dapat mempengaruhi penjualan adalah:
1. Kondisi dan kemampuan penjual
Penjual harus dapat meyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan. Untuk itu penjual harus memahami bebarapa hal yaitu: jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan, harga produk, dan syarat penjualan.

2. Kondisi pasar
Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualan. Adapun faktor – faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan adalah jenis pasar, kelompok pembeli, daya belinya, frekuensi pembeliannya, dan keinginan serta kebutuhannya.
3. Modal
Untuk melaksanakan kegiatan penjualan maka penjual harus memiliki sejumlah modal.
4. Kondisi organisasi
Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri (bagian penjualan) yang dipegang oleh orang – orang tertentu atau yang ahli dibidang penjualan. Sedangkan pada perusahaan kecil masalah penjualan masih ditangani oleh orang yang juga melaksanakan fungsi – fungsi lain.
5. Faktor – faktor lain
Faktor – faktor lain tersebut di antaranya adalah periklanan, peragaan, kampanye, dan pemberian hadiah.

2.1.2.3 Pengertian Volume Penjualan
Volume penjualan dapat dijabarkan sebagai umpan balik dari kegiatan pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan. Volume penjualan menunjukan produktifitas suatu perusahaan dan juga keberhasilan dalam pemasaran.
Semakin besar volume penjualan maka semakin besar pula kemungkinan untuk mendapat keuntungan atau mengalami pertumbuhan laba perusahaan. Keberhasilan usaha penjualan dapat dilihat dari volume penjualan yang didapat. Dengan kata lain apakah usaha tersebut mendapatkan laba atau tidak, sangat bergantung pada keberhasilan penjualan itu.
Adapun menurut Freddy Rangkuti (2009:204) mengemukakan bahwa: “Volume penjualan merupakan jumlah total yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang dagangan.”
Menurut Mulyadi (2005:239) mengemukakan bahwa: “Volume penjualan merupakan ukuran yang menunjukan banyaknya atau besarnya jumlah barang atau jasa yang terjual”.
Sedangkan menurut Fandi Tjiptono (1995:254) mengemukakan bahwa: “Volume penjualan adalah jumlah barang dan jasa yang terjual berdasarkan data kuantitatif pada periode tertentu”.
Semakin besar penjualan yang dihasilkan perusahaan, maka semakin besar pula laba yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, volume penjualan merupakan salah satu hal yang sangat penting yang harus dievaluasi yang memungkinkan perusahaan agar tidak rugi.
Jadi volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan utama perusahaan dan bukannya untuk kepentingan volume itu sendiri. Keterangan tersebut dipertegas oleh Basu Swasta (dalam Silviawati, 2010:32) yang menyatakan bahwa: “Hasil kerja dalam penjualan masih diukur terutama dari volume penjualan yang dihasilkan dan bukan dari laba perusahaan”.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa volume penjualan merupakan hasil total yang didapat perusahaan dari kegiatan penjualan barang dagangan.
Selanjutnya berdasarkan pendapat Swastha dan Irawan (dalam Silviawati, 2010:33) tersebut dapat diketahui bahwa pengukuran volume penjualan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1.Didasarkan jumlah unit produk yang terjual. Volume penjualan yang diukur berdasarkan unit produk yang terjual, yaitu jumlah unit penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode tertentu.
2.Didasarkan pada nilai produk yang terjual (omzet penjualan). Volume penjualan didasarkan pada nilai produk yang terjual (omzet penjualan), yaitu jumlah nilai penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode tertentu.

2.1.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Penjualan
Faktor – faktor yang mempengaruhi penjualan menurut Sutojo (1985: 45- 50) yaitu:
1. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam perusahaan. Faktor ini menyangkut kebijaksanaan dan keputusan perusahaan dalam bidang marketing dan faktor lain yang meliputi: kapasitas produk, mutu layanan, modal, jenis produk baru/ lama, pengurus, dan keanggotaan (tenaga kerja).
2. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar perusahaan, yaitu keadaan perekonomian, permintaan konsumen, persaingan, dan kebijakan pemerintah.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi volume penjualan menurut Ridwan Iskandar (2003), (dalam http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/91-pengertian-penjualan.pdf)
antara lain:

1.Kualitas barang
Turunnya mutu barang dapat mempengaruhi volume penjualan, jika barang yang diperdagangkan mutunya menurun dapat menyebabkan pembelinya yang sudah menjadi pelanggan dapat merasakan kecewa sehingga mereka bisa berpaling kepada barang lain yang mutunya lebih baik.
2.Selera konsumen
Selera konsumen tidaklah tetap dan dapat berubah setiap saat, bilamana selera konsumen terhadap barang-barang yang kita perjualkan berubah maka volume penjualan akan menurun.
3.Servis konsumen
Servis terhadap pelanggan merupakan faktor penting dalam usaha memperlancar penjualan terhadap usaha dimana tingkat persaingan semakin tajam. Dengan adanya servis yang baik terhadap para pelanggan sehingga dapat meningkatkan volume penjualan.
4.Persaingan menurunkan harga jual
Potongan harga dapat diberikan dengan tujuan agar penjualan dan keuntungan perusahaan dapat ditingkatkan dari sebelumnya. Potongan harga tersebut dapat diberikan kepada pihak tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula.
5.Modal kerja yang memadai
Dengan tersedianya modal kerja yang memadai dapat memperlancar proses produksi yang nantinya akan berdampak pada peningkatan volume penjualan.
Berkaitan dengan pertumbuhan penjualan, perusahaan harus mempunyai strategi yang tepat agar dapat memenangkan pasar dengan menarik konsumen agar selalu memilih produknya. Untuk itu faktor – faktor yang mempengaruhi penjualan harus benar -benar diperhatikan. Dengan mengetahui faktor – faktor tersebut perusahaan akan dapat menetapkan kebijaksanaan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, sehingga perusahaan dapat menjual produk dalam jumlah yang besar dan volume penjualan akan meningkat yang mengakibatkan laba perusahaan akan meningkat pula. Dengan meningkatnya laba perusahaan.

2.1.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penjualan
Pertumbuhan penjualan dapat diartikan sebagai perubahan penjualan per tahun. Pertumbuhan penjualan suatu produk sangat tergantung dari daur hidup produk. Menurut Kotler dan Amstrong (1997: 327) ada empat tahap daur hidup produk yang mempengaruhi pertumbuhan penjualan, yaitu:
1.Tahap Introduksi
Tahap ini mulai ketika produk baru pertama kali diluncurkan. Hal ini membutuhkan waktu, dan pertumbuhan penjualan cenderung lambat. Dalam tahap ini kalau dibandingkan dengan tahap – tahap yang lain, perusahaan masih merugi atau berlaba kecil karena penjualan yang lambat dan biaya distribusi serta promosi yang tinggi.



2. Tahap Pertumbuhan
Pada tahap ini pertumbuhan penjualan meningkat dengan cepat, laba meningkat, karena biaya promosi dibagi volume penjualan yang tinggi, dan juga karena biaya produksi per unit turun.
3. Tahap Menjadi Dewasa
Tahap dewasa ini berlangsung lebih lama daripada tahap sebelumnya dan memberikan tantangan kuat bagi manajemen pemasaran. Penurunan pertumbuhan penjualan menyebabkan banyak produsen mempunyai banyak produk untuk dijual.
4. Tahap Penurunan
Penjualan menurun karena berbagai alasan, termasuk kemajuan teknologi, selera konsumen berubah, dan meningkatnya persaingan ketika penjualan dan laba menurun, beberapa perusahaan mundur dari pasar. Perusahaan yang masih bertahan dapat mengurangi macam produk yang ditawarkannya.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2009:303) empat tahap yang memenuhi pertumbuhan penjualan adalah sebagai berikut:
1.Pengenalan. Periode pertumbuhan penjualan lambat ketika produk diperkenalkan di pasar. Tidak ada laba karena pengeluaran yang besar untuk pengenalan produk.
2.Pertumbuhan. Periode penerimaan pasar yang cepat dan peningkatan laba yang substansial.
3.Kedewasaan. Penurunan pertumbuhan penjualan karena produk telah diterima oleh sebagian besar pembeli potensial. Laba stabil atau turun karena persaingan meningkat.
4.Penurunan. Penjualan memperlihatkan penurunan dan laba terkikis.

Menurut Mohamad Abdul Azis (2005), (dalam httpdigilib.unnes.ac.idgsdlcollectskripsiarchivesHASH0127.dirdoc.pdf) pertumbuhan penjualan dihitung dengan cara menyelisihkan antara total penjualan tahun n dan tahun (n – 1) dengan total penjualan tahun ke (n – 1).





2.1.2.6 Pengaruh Biaya Kualitas terhadap Tingkat Pertumbuhan Penjualan
Biaya kualitas timbul untuk mencegah terjadinya kualitas yang rendah atau biaya yang keluar karena terjadinya kualitas produk yang rendah atau rusak. Biaya kualitas terdiri dari biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal, dan biaya kegagalan eksternal (Fandy Tjiptono & Anastasia Diana 2000 : 36 ). Pada umumnya dengan naiknya biaya pencegahan, biaya kualitas lainnya akan menurun, dikarenakan biaya pencegahan merupakan biaya yang paling besar dikeluarkan guna menghasilkan produk yang berkualitas, dengan dihasilkan produk yang berkualitas maka akan meminimumkan pengeluaran biaya yang berkaitan dengan kegagalan produk baik internal maupun eksternal. Sehingga cara terbaik bagi perusahaan dalam mengeluarkan biaya yang berkaitan dengan kualitas dengan cara menginvestasikan ke dalam tindakan-tindakan pencegahan. Biasanya biaya pencegahan merupakan biaya kebijakan dan sebagian besar merupakan biaya yang efektif untuk memperbaiki kualitas. (Blocher et., al, 2000 : 221).
Dengan melakukan pencegahan yang baik terhadap kualitas yang buruk, diharapkan permasalahan yang berkaitan dengan kualitas dapat berkurang, sehingga semakin sedikit penilaian yang dibutuhkan karena produk dibuat dengan baik pada saat akan dilakukannya atau saat proses produksi berlangsung. Berkurangnya produk cacat yang diproduksi dapat menurunkan biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal seperti menurunkan pengembalian produk, perbaikan dan pengerjaan kembali yang pada akhirnya biaya kualitas pun dapat mengalami penurunan. (Blocher et., al, 2000 : 223).
Melalui penerapan biaya kualitas yang tepat, maka akan terjadi pencapaian kualitas karena produk yang diciptakan memenuhi permintaan konsumen, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan dan dengan kualitas yang tinggi pula menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan dan pengerjaan kembali produk cacat. Untuk itu akan terjadi penghematan pada biaya produksi. (Blocher, et.al., 2000 : 36)
Pertumbuhan penjualan suatu produk dari perusahaan tergantung dari daur hidup produk. Jika pertumbuhan penjualan per tahun meningkat, maka laba yang diperoleh perusahaan akan meningkat. Kondisi tersebut apa bila perusahaan dapat meningkatkan pangsa pasarnya. Seperti yang telah dikemukakan oleh Fandy Tjipto & Anastasia Diana (2001 : 10) mengemukakan bahwa dengan meningkatkan perbaikan kualitas secara terus menerus maka perusahaan dapat meningkatkan labanya melalui dua rute:
1). Rute Pasar, perusahaan dapat memperbaiki posisi bersaingnya sehingga pangsa pasarnya semakin besar,
2) Perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan melalui perbaikan kualitas.

Dengan demikian biaya kualitas yang akan dikeluarkan perusahaan akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan, karena jika kualitas produknya baik maka perusahaan dapat meningkatkan pangsa pasar yang tentunya akan meningkatkan penjualan tersebut.

2.2Kerangka Pemikiran
Kualitas merupakan hal utama yang menyangkut suatu produk, baik barang atau jasa. Sejauh mana suatu produk dapat memberikan kebutuhan kepada konsumen yang di ukur dengan kualitasnya. Masalah kualitas muncul ketika konsumen atau pemakai tidak mendapatkan fungsi dan kegunaan sebagai kebutuhan dalam produk yang dihasilkan. Perusahaan menyadari strategi yang dipicu dalam peningkatan kualitas dapat meningkatkan pangsa pasar yang signifikan, meningkatkan penjualan, dan kemakmuran jangka panjang.
Oleh karena itu setiap perusahaan dalam memproduksi suatu produk haruslah memperhatikan kualitasnya sesuai dengan kebutuhan konsumen dan dilaksanakan secara efisien. Dimana kualitas produk dan jasa adalah masalah yang berkaitan dengan atribut produk yang perlu diperbaiki atau bagaimana dengan menyingkirkan yang atributnya menyimpang dari atribut yang diinginkan dari produk yang baik yang atributnya memenuhi syarat. (Mulyadi, 2000 : 44).
Sedangkan Hansen & Mowen (2000 : 6) yang diterjemahkan oleh Ancella A. Hermawan, mengemukakan bahwa: “Kualitas produk dan jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan”.
Dengan demikian kualitas merupakan ukuran relatif kebaikan suatu produk, produk berkualitas adalah produk yang dapat mempengaruhi harapan pelanggan.
Menurut Sulastri Ningsih dan Zulkifli (1997 : 65 ) suatu produk dikatakan memiliki kualitas apabila memenuhi dua kriteria berikut yaitu:
(1) Kualitas Desain (design quality) merupakan fungsi spesifikasi produk, kualitas desain mengukur sejauh mana karakteristik atau jasa dapat memenuhi keinginan kebutuhan konsumen,
(2) Kualitas Kesesuaian (conformance quality) merupakan ukuran seberapa jauh suatu produk memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan.

Kualitas selalu berfokus kepada pelanggan artinya suatu produk akan dikatakan berkualitas apabila produk tersebut sesuai dengan harapan pelanggan, dapat dimanfaatkan dengan baik dan diproduksi dengan cara yang baik pula atau sesuai denga spesifikasinya.
Peningkatan kualitas merupakan suatu hal yang penting bagi suatu perusahaan, karena dengan adanya kemampuan perusahaan memberikan produk yang berkualitas dan dapat memberikan kepuasan pada konsumen yang membeli produknya, maka akan berpengaruh kepada peningkatan penjualan yang akan mendatangkan pendapatan pada perusahaan sehingga perusahaan akan mencapai keuntungan yang maksimal.
Manajemen mempunyai kewajiban yaitu perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Salah satunya tentang mutu produk yang dihasilkan perusahaan. Untuk itu manajemen perlu memahami tentang biaya kualitas yang peranannya sebagai penunjang dalam menghasilkan produk yang berkualitas. Dimana biaya kualitas itu sendiri adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan pencegahan, pengidentifikasian, perbaikan dan pembetulan produk cacat dengan opportunity cost dari hilangnya waktu produksi dan penjualan sebagai akibat rendahnya kualitas. (Blocher, et., al, 2000 : 220)
Dengan demikian biaya kualitas tidak hanya meliputi biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pengendalian atas produk yang dihasilkan. Akan tetapi termasuk juga biaya yang timbul karena terjadinya produk-produk yang gagal memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Biaya pencegahan dan biaya penilaian termasuk biaya pengendalian kualitas, sedangkan biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal termasuk kepada biaya kegagalan produk dalam memenuhi spesifikasinya.
Dari dua kegiatan yang terkait dengan mutu Blocher. et, al., yang di terjemahkan oleh A. Susty Ambarriani (2000 : 220) biaya kualitas dibagi dalam empat komponen yaitu: (1) Biaya pencegahan, (2) Biaya penilaian, (3) Biaya kegagalan internal, (4) Biaya kegagalan eksternal.
Biaya pencegahan biasanya biaya yang paling mudah dikendalikan oleh manajemen di antara empat komponen biaya kualitas. Biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal merupakan biaya kualitas yang termahal, khususnya biaya kegagalan eksternal karena hilangnya pangsa pasar atau penjualan yang hilang karena produk yang tidak memuaskan. Pencegahan yang lebih baik terhadap kualitas yang buruk, akan menurunkan semua biaya kualitas. Semakin sedikit biaya yang berkaitan dengan kualitas, maka semakin sedikit penilaian yang dibutuhkan karena produk dibuat dengan baik pada saat produksi dilakukan. Semakin sedikit unit yang cacat juga menurunkan biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal seperti perbaikan, pengerjaan kembali dan menurunkan pengembalian produk.
Dengan mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pencegahan, perusahaan semakin sedikit mengeluarkan biaya yang berkaitan dengan biaya kegagalan internal dan eksternal. Penghematannya sendiri bisa menjadi lebih besar sekali, pada akhirnya terjadi penurunan yang sangat besar dalam biaya kualitas dan kualitas produk akan meningkat. (Blocher. et, al., 2000 : 223).
Untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas memang memerlukan biaya yang tidak sedikit terutama biaya pencegahan, karena biaya kualitas ini memang cukup mahal, tetapi lebih sedikit bila dibandingkan dengan kerugian yang timbul karena rendahnya kualitas produk. Dengan dihasilkan produk yang berkualitas, maka perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya dan tentunya dengan harga yang kompetitif.
Menurut M. Tribus (1999 : 69) untuk dapat mengikuti persaingan global bisnis, perusahaan harus mempunyai kemampuan sebagai berikut :
(1) Mengerti apa yang diinginkan konsumen dan berusaha untuk memenuhinya pada tingkat biaya yang lebih rendah,
(2) Menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan konsumen dengan kualitas yang tinggi dan reabilitas yang konsisten,
(3) Senantiasa mengikuti pengembangan teknologi, politik dan sosial yang terjadi dilingkungan perusahaan,
(4) Dapat memprediksikan apa yang diinginkan konsumen bahkan sampai dekade sepuluh tahun mendatang.

Dengan adanya teknik pengendalian biaya kualitas tersebut maka akan mempermudah perusahaan dalam menentukan besarnya kerugian yang diderita oleh perusahaan apabila terdapat produk yang dihasilkan menyimpang dari nilai targetnya. Tentu saja hal ini membutuhkan komitmen perusahaan dalam menerapkan quality control sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan maksimal bagi perusahaan.
Indikator-indikator biaya kualitas di atas merupakan suatu bentuk pengorbanan biaya yang difokuskan pada peningkatan kualitas untuk meningkatkan penjualan, karena agar tercapainya tujuan perusahaan yakni memperoleh laba, perusahaan mengandalkan kegiatan dalam bentuk penjualan, karena penjualan merupakan sumber hidup suatu perusahaan, dengan terjadinya transaksi penjualan dapat diperoleh laba serta suatu usaha memikat konsumen yang diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka sehingga dapat mengetahui hasil produk yang dihasilkan. Dengan demikian, semakin meningkatnya penjualan semakin besar pula laba yang diperoleh perusahaan dan semakin meningkatnya kualitas suatu produk yang sesuai dengan keinginan konsumen maka secara tidak langsung akan meningkatkan penjualan.
Setiap perusahaan pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin memperoleh keuntungan yang semakin meningkat dan menjaga kelangsungan hidup perusahaannya. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut perusahaan mengandalkan kegiatannya dalam bentuk penjualan. Semakin besar voleme penjualan maka semakin meningkatnya keuntungan yang didapatkan perusahaan.
Menurut Joel G. Siegel dan joe K. Shim yang diterjemahkan oleh Moh. Kurdi (dalam http://www.scribd.com/doc/11319639/Pengertian-Penjualan), “Penjualan adalah penerimaan yang diperoleh dari pengiriman barang dagangan atau dari penyerahan pelayanan dalam bursa sebagai barang pertimbangan. Pertimbangan ini dapat dalam bentuk tunai harta peralatan kas atau harta lainnya. Pendapatan dapat diperoleh pada saat penjualan, karena pertukaran, harga jual dapat ditetapkan dan bebannya diketahui”.
Volume penjualan dapat dijabarkan sebagai umpan balik dari kegiatan pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan. Adapun pengertian volume penjualan adalah merupakan jumlah total yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang dagangan (Freddy Rangkuti, 2009:204).
Volume penjualan yaitu jumlah nilai penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode tertentu. Volume penjualan tersebut didasarkan pada nilai produk yang terjual / omzet penjualan Swastha dan Irawan, (dalam Silviawati, 2010).
Atau juga volume penjualan merupakan jumlah barang dan jasa yang terjual berdasarkan data kuantitatif pada periode tertentu (Fandi Tjiptono, 1995:254).
Pengukuran volume penjualan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengukuran produk berdasarkan unit produk yang terjual dan didasarkan pada nilai produk yang terjual (omzet penjualan). Dalam penelitian ini pengukuran volume penjualan didasarkan pada nilai produk yang terjual (omzet penjualan).
Pertumbuhan penjualan dapat diartikan sebagai perubahan penjualan per tahun. Pertumbuhan penjualan suatu produk sangat tergantung dari daur hidup produk. Menurut Kotler dan Amstrong (1997: 327) ada empat tahap daur hidup produk yang mempengaruhi pertumbuhan penjualan, yaitu: 1) Tahap Introduksi, 2) Tahap Pertumbuhan, 3) Tahap Menjadi Dewasa, 4) Tahap Penurunan.
Penjualan menurun karena berbagai alasan, termasuk kemajuan teknologi, selera konsumen berubah, dan meningkatnya persaingan ketika penjualan dan laba menurun, beberapa perusahaan mundur dari pasar. Perusahaan yang masih bertahan dapat mengurangi macam produk yang ditawarkannya. .
Biaya kualitas bertujuan dimana pengorbanan yang dikeluarkan oleh perusahaan bergerak kearah yang positif dengan indikasi dimana produk yang dihasilkan adalah produk yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen dan kepuasan konsumen dapat terpenuhi. Karena dengan dihasilkannya kualitas produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan atau konsumen, secara tidak langsung akan membuat konsemen atau pelanggan tersebut merasa puas, karena manfaat yang diberikan produk tersebut sesuai dengan keinginan pelanggan atau konsumen. Dengan dihasilkannya produk yang berkualitas yang sesuai dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan perusahaan yang sesuai dengan keinginan konsume, yang nantenya akan berdampak pada peningkatan volume penjualan. Apabila produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan maka dipastikan selain akan mengeluatkan biaya untuk melakukan perbaikan terhadap kualitas produk tersebut, secara perlahan pelanggan akan melirik pada produk lain yang dapat memberikan manfaat dan kepuasan. Maka pangsa pasar akan menurun yang berakibat pada penurunan volume penjualan dan hal ini akan dapat merugikan perusahaan.
Dengan melakukan perbaikan kualitas secara terus menerus maka :1) perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya sehingga pangsa pasarnya semakin besar, 2) Perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan melalui upaya perbaikan kualitas. (Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, 2001: 10). Dengan demikian diharapkan perusahaan akan dapat meningkatkan penjualan, yang mencerminkan pencapaian tujuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang besar.
Dari grand theory tersebut dibuat paradigma penelitian sebagai berikut :







2.3 Hipotesis
Menurut Sugiyono (2002:51) mengemukakan bahwa: “Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang masih harus dibuktikan kebenarannya”. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta – fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
“Bahwa Biaya Kualitas Berpengaruh Signifikan terhadap Tingkat Pertumbuhan Penjualan.”

PERANAN PERIKLANAN DALAM JUMLAH PELANGGAN PADA CV ABADI JAYA TASIKMALAYA

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PENDEKATAN MASALAH

2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran
Suatu organisasi yang berorientasi pada bisnis dengan tujuan mencari keuntungan, pemasaran merupakan salah satu fungsi pokok yang dapat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan suatu perusahaan. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas lagi tentang pemasran, maka penulis mengutip beberapa pendapat para ahli pemasaran yaitu sebagai berikut :
Menurut Philip Kotler (2002:9) “Pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan ingin dengan menciptakan, penawaran, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan dengan pihak lain”.
Sedangkan menurut Buchari Alma (2004:3) : “Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penentu harga, promosi dan pendistribusian barang, jasa dan ide sertadapat memuaskan pelanggan dan tujuan peruhahaan”.
Dari definisi pemasaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan yang dirancang untuk menciptakan, menyalurkan dan mempertukarkan barang dan jasa dengan selalu memperhatikan bahwa barang ataupun jasa yang dijual sesuai dengan kebutuhan dan keingingan konsumen.

2.1.2 Pengertian Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran mempunyai peranan yang cukup penting dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan serta mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Kotler (2000: 15) : “Marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursue its marketing objectives in the target market”.
Sedangkan menurut Djaslim Saladin (1994: 9) : “Bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat elemen pokok yang terdapat dalam program pemasaran perusahaan. Empat elemen tersebut terdiri dari produk (product), harga (price), promosi (promotion) dan tempat (place)”.
Dengan demikian dapat kita lihat bahwa bauran pemasaran merupakan suatu kombinasi dari 4 (empat) variabel yang saling mempengaruhi antara setiap unsur dengan unsur lainnya, dan saling menunjang untuk mencapai hasil yang optimal meraih tujuan perusahaan.
Marketing mix digunakan dalam strategi pemasaran sebagai suatu cara untuk mempengaruhi konsumen agar mau beartindak membeli suatu produk perusahaan. Menurut Kotler ( yang diterjemahkan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusly (1997: 82-83) unsur-unsur yang membentuk marketing mix adalah :
1. Produk (product), adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran.
2. Harga (price), jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk.
3. Promosi (promotion), aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membeli.
4. Tempat (place), aktivitas perusahaan untuk membuat produk yang tersedia bagi konsumen sasaran.
Untuk pemasaran jasa, aktivitas bauran pemasaran (4P) yang menjadi rancangan utama dari manajemen pemasaran tidak lengkap, tidak memperhatikan seksama kebutuhan pelanggan, serta mengabaikan kualitas. Untuk menghadapi kekurangan tersebut maka 4P perlu ditambahkan 3P untuk jasa.
Menurut Booms dan Bitner yang dikutip oleh Teddy Pawitra (2001: 43) adalah :
1. Participant, merupakan karyawan dari penyedia jasa (menentukan kualitas jasa) dan pelanggan yang terlibat dalam penyerahan jasa (mempengaruhi pembeli sekarang dan kemudian).
2. Physical evidence, merupakan lingkungan organisasi jasa dan seluruh produk fisik secara symbol yang digunakan dalam proses komunikasi dan produksi.
3. Process, merupakan prosedur, mekanisme berbagai kegiatan dan interaksi untuk produk jasa dan kontrak untuk pelanggan.

Maka dalam konteks jasa, bauran pemasaran menjadi 7P yaitu : product, price, promotion, place, participant, physical evidence, and process. Dari ketujuh bauran tersebut yang penulis bahas hanya mengenai masalah promosi

2.1.3 Pengertian Promosi
Promosi merupakan salah satu variabel dari bauran pemasaran yang sangat berperan di dalam mengkomunikasikan produk yang dihasilkan perusahaan kepada konsumen sasaran agar melakukan tindakan pembelian dan mendapatkan kesan baik terhadap produk perusahaan, tanpa adanya komunikasi yang disampaikan akan suatu produk kepada konsumen maka mustahil konsumen dapat mengenal dan mengetahui keberadaan produk perusahaan.
Menurut George E.Belch dan Michael A. Belch (2004:16): “Promotion has been defined as the condition of all sellerness of information and persuasion in order to sell goods and services or promote an idea”.
Sedangkan menurut Bearden, Ingram, LaForge (2004:375): “Marketing communications, some time referred to as promotion, involve marketer-initiated techniques directed to target audiences in an attempt to influence attitudes and behaviors”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa promosi adalah suatu kondisi yang melibatkan perusahaan dalam memasakan produck atau jasanya dengan menggunakan informasi dan dorongan yang bertujuan untuk mempengaruhi perilaku dan tindakan konsumen. Teknik ini ditukan pada konsumen yang menjadi sasaran pemasaran perusahaan.

2.1.4 Pengertian Bauran Pemasaran
Melalui kegiatan promosi perusahaan dapat memperkenalkan produk kepada konsumen mengenai jenis, kualitas, serta dimana konsumen dapat membelinya. Untuk itu perusahaan dapat memfokuskan pada salah satu dari bauran promosi, atau menggunakan beragam bauran promosi agar terjadi komunikasi antara pembeli dan penjual.
Menurut Djaslim Sadin (2003:5) ”bauran pemasaran adalah seperangkat variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran”.
Bauran promosi merupakan alat dari promosi, menurut Kotler (2000: 564) bauran promosi terdiri dari : (1) Advertising, (2) Sales promotion, (3) Public relation and publicity, (4) Personal selling, (5) Direct marketing.

2.1.5 Pengertian Periklanan
Periklanan merupakan bagian dari bauran promosi dan merupakan salah satu alat yang digunkan perusahaan untuk mengarahkan komunikasi persuasive untuk memperkenalkan produknya pada consumer. Guna memperjelas pengertian periklanan, berikut ini kutipan definisinya:
menurut Morrisan (2008:34) “menyatakan bahwa iklan adalah setiap bentuk komunikasi nonpersonal mengenai suatu organisasi, produk, servis, atau ide yang dibayar oleh satu sponsor yang diketahui”.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2001: 226) :
Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada informasi tentang keunggulan dan keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan merubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa periklanan adalah suatu sarana komunikasi yang disampaikan oleh perusahaan kepda konsumen mengenai produk, jasa, idea atau gagasan yang dibuat sedemikian rupa untuk meraih calon pembeli yang potensial.

2.1.5.1 Sifat Periklanan
Menurut Philip Kotler (2002:643), karna banyak bentuk dan penggunaan periklanan, sangat sulit untuk membuat generalisasi yang merangkum semuanya. Namun, sipat-sipat berikut dapat diperhatikan:
1. Persentasi umum: periklanan yang bersipat umum itumemberikan semacam keabsahan pada produk dan menyarankan tawaran yang tersetandarisasi. Karna banyak orang menerima pesan pesan yang sama, pembeli mengetahui bahwa motif mereka untuk membeli produk tersebut akan dimaklumi oleh umum.
2. Tersebar luas: periklanan adalah medium yang berdaya sebar luas yang memungkinkan penjual mengulang pesan berkali-kali. Iklan juga dapat memungkinkan pembeli menerima dan membandingkan pesan dari berbagai pesaing. Periklanan bersekala besar oleh seorang penjual menyiratkan hal yang posiitif tentang ukuran, kekuatan dan keberhasilan.
3. Eksperesi yang lebih sulit: periklanan memberikan peluang untuk mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui cetakan, suara dan warna yang penuh seni.
4. Tidak bersipat pribadi: audiens tidak merasa wajib untuk memperhatikan atau menanggapi. Iklan hanya mampu melakukan monolog, bukan dialog dengan audiens.

2.1.5.2 Jenis-jenis Periklanan
Periklanan memiliki jenis yang beragam yang juga ditujukan untuk konsumen yang berdeda. Masing masing dari iklan tersebut memiliki tujuan yang berbeda tergantung pada audiens yang di jadikan target pemasarannya. George E Blech dan Michael S Blelch (2004:19) mengklasifikasikan periklanan sebagai berikut:
1. Advertising to consumer market
a. National advertising
Adalah periklanan yang dilakukan oleh perusahaan besar yang berbasis meliputi seluruh negri ataubagian besar wilayah Negara.
b. Retail/local advertising
Periklanan yang dilakukan oleh retail atau local marchant untuk mendorong konsumen untuk belanaja pada toko tertentu, menggunakan jasa lokal atau melindungi bangunan utama.
c. Primary-versus selective-demand advertising
Primary demand advertising didesain untuk merangsang permintaan untuk kelas produk tertentu atau seluruh industry. Selective demanad advertising lebih pokus pada menciptakan permintaan untuk merek peruhsahaan yang lebih spesifik.
2. Advertising to business and professional markets
a. Business-to- business advertising
Periklanan yang ditargetkan pada individu yang membeli atau yang mempengaruhi pembelian atau barang-barang atau jasa-jasa industry untuk perusahaannya.
b. Professional advertising
Periklanan yang ditargetkan untuk para propesional seperti dokter, pengacara, dokter gigi, insinyur atau professor untuk mendorong mereka menggunakan produk perusahaan dalam pekerjaan mereka.
c. Trade advertising
Periklanan yang ditargetkan untuk anggota saluran pemasaran seperti pedagang besar, distributor dan pengecer. Tujuannya adalah untuk mendorong anggota saluran untuk pemasok, memperomosikan dan menjual ulang merek produk dari perusahaan kepada konsumen mereka.

2.1.5.3 Langkah-langkah Dalam Memutuskan Periklanan
Menurut Philip Kotler (2002:658), dalam membuat program periklanan, manajer pemasaran harus selalu melalui dengan mengidentifikasi pasar sasaran dan motif pembeli. Kemudian membuat lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan, yang disebut lima M yaitu:
a. Mission (misi): apakah tujuan periklanan?
b. Money (uang): berpa banyak dana yang dapat dibelanjakan dalam periklanan?
c. Message (pesan): pesan apa yang harus disampaikan?
d. Media (media): media yang akan digunakan?
e. Measurent (pengukuran): bagaimana mengepaluasi hasilnya?
Untuk lebih jelasnya dalam memahami lima keputusan utama dalam iklan diatas, berikut penjelasan dari masing-masing keputusan tersebut:
a. Mission
Menurut Philip Kotler (2002:658-659), tujuan periklanan harus didasarakan pada keputusan sebelumnya mengenai pasar sasaran, penentuan potensi pasar dan bauran pemasaran.tujuan periklanan adalah suatu tugas komunikasi spesifik dan level keberhasilan yang harus dicapai atas audiens spesifik pada priode waktu yang spesifik. Tujuan periklanan dapat digolongkan berdasarkan sasarannya yaitu apakah untuk menginformasikan, membujuk atau mengingatkan.
- Periklanan inofatif diadakan secara besar-besaran pada tahap awal suatu jenis produk, tujuannya adalah untuk membentuk permintaan pertama.
- Periklanan persuatif penting untuk dilakukan dalam tahap persaingan, tujuannya adalah membentuk permintaan selektif atas suatu merek tertentu.
- Iklan pengingat sangat penting untuk prouk yang sudah mapan.
b. Money
Menurut Philip Kotler (2002:660), setelah menentukan tujuan periklanan, perusahaan kemudian dapat membuat anggaran periklanan untuk tiap produk. Sds lims spesifik yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan anggaran periklanan:
- Tahap dalam siklus hidup produk: produk baru umumnya mendapat anggaran iklan yang besar guna membangun kesadaran dan membuat pelanggan mencoba produk tersebut.
- Pangsa pasar dan basis konsumen: merek dengan pangsa pasar yang tinggi biasanya membutuhkan lebih sedikit biaya iklan sebagai persentase terhadap penjualan guna mempertahankan pangsanya. Untuk memperbesar pangsa dengan meningkatkan ukuran pasar memerlukan pengeluaran periklanan yang lebih besar.
- Persaingan dan gangguan: dalam pasar dengan banyak pesaing dan mengeluarkan iklan yang tinggi, suatu merek harus diiklankan secara besar-besaranagar terdengar ditengah kegaduhan pasar. Bahkan gangguan sederhana dari iklan yang tidak bersaing secara langsung dengan merek tersebut sudah menyebabkan perlunya periklanan yang lebih besar.
- Frekuensi periklanan: jumlah pengulangan yang diperlukan dalam untuk menyampaikan pesan kepada konsumen juga sangat menentukan anggaran periklanan.
- Kemungkinan subtitusi produk: merek-merek dalam suatu kelas komoditas (misalnya rokok, bir, minuman ringan) memerlukan iklan besar-besaran untuk membangun citra yang berbeda. Periklanan juga penting jika suatu merek dapat memberikan manfaat atau tampilan fisik yang unik.
c. Message
Menurut Sutisna (2003:278-283), untuk menampilkan pesan iklan yang mampu membujuk, mampu membangkitkan dan mempertahankan ingatan konsumen akan produk yang ditawarkan, memerlukan daya tarik bagi audiens sasaran. Daya tarik iklan sangat penting karna akan meningkatkan keberhasilan komunikasi dengan audiens. Terdapat dua jenis daya tarik iklan yaitu:
- Daya tarik pesan iklan rasinal
Berikut ini beberapa jenik tipe penampilan iklan untuk menimbulkan daya tarik rasional:
1. Factual: daya tarik tipe ini umumnya berhubungan dengan pengambilan keputusan hig invivement, yaitu penerima pesan dimotivasi untuk dapat memperoses informasi. Iklan yang menampilkan sisi manfaat produk dan keunggulan produk sekaligus menampilkan argumentasi yang masuk akal, termasuk kedalam daya tarik factual.
2. Potongan kehidupan: pesan iklan yang menampilkanpotongan kehidupan sangat banyakdisampaikan oleh televise. Penonyon disuguhkan pesan iklan dalam bentuk kegiatan sehari-hari yang sering di alami oleh banyak orang.
3. Demontrasi: teknik yang hamper sama yang digunakan untuk menyelesaikan mesalah yang sering dihadapai konsumen yaitu demontrasi. Pesan iklan yang ditampilkan menggambarkan kemapuan produk secara instrumental mampu menyelesaikan masalah.
4. Iklan perbandingan: adalah iklan yangberusaha membandingkan keunggulan produck yang ditawarkan dengan produk lain sejenis. Pemasar berusaha untuk menyakinkan konsumen bahwa produk yang ditawarkan lebih baik dari yang lain.
- Daya tarik iklan didasarkan pada perasaan dan emosi
Penggunaan daya tarik perasaan dan emosi banyak digunakan baik untuk produk yang berharga mahal maupun untuk produk yang harganya lebih murah. Berikut ini akan dibahas satu-persatu cara-cara menampilkan pesan iklan dengan daya tarik perasaan dan emosi:
1. Rasa takut: tampilan iklan yang menggunakan rasa takut biasanya menampilkan aspek-aspek negative atau hal-hal yangberbahaya yang berhubungan dengan perilakuatau penggunaan produk yang tidak tepat.
2. Humor: penggunaan homor sebagai daya tarik emosional sangat menarik karna hal itu dapat menarik perhatian dan dapat menimbulkan daya tarik. Alas an lain penggunaan humor adalah bahwa humor dapat membuat penerima pesan memperoleh mood positif. Ketika penonton memperoleh mood positif, maka probabilitas penerima pesan secara baik akan lebih besar.
3. Animasi: animasi merupakan cara lain untuk menampilkan daya tarik iklan. Anamiasi banyak digunakan untuk produk-produkyang konsumennya anak-anak. Alas an utama dari penggunaan animasi adalah karna untuk menghindari rasa bosan konsumen. Dengan animasi, tampilan iklan secara visual dapat direkayasa sedemikin rupa sehingga menarik perhatian penonton.
4. Seks: penggunaan sindiran-sindiran seksual atau tema seksual dalam tampilan iklan sudah sangat bias dan juga controversial. Banyak iklan yang menggunakan tema seksual sebagai daya tarik iklan diprotes masyarakat. Penggunaan tema seksual memang sangat ampuh untuk menarik perhatian penonton, bahkan untuk produk yang tidak berhubungan seklipun.
5. Musik: penggunaan music sebgai daya tarik tampilan iklan sangat sering memakaai music sebagai ilustrasi pripheralnya. Music dalam iklan bias juga sebagai diferensiator. Artinya, penggunaan jenis music akan menimbulkan charisma, wibawa dan kesan tersendiri dari produk yang diiklankan.
6. Fantasi: fantasi adalah salah satu cara untuk menimbulkan daya tarik bagi tampilan iklan. Penggunaan fantasi sebagaidaya tarik tampilan iklan diyakini dapat menimbulkan perhatian dari penonton. Produk makanan kecil untuk anak-anak sering juga menggunakan fantasi.
d. Media
Menurut Philip Kotler (2002:667), setelah memilih pesan iklan, tugas pengiklanan berikutnya adalah memilih media pengiklanan untuk menyampaikan pesan iklannya. Tahapan-tahapannya adalah:
1. Memutuskan jangkauan, frekuensi dan dampak yang diinginkan.
2. Memilih di antara bergagai jenis media utama.
3. Memilih sarana media tertentu.
4. Memutuskan waktu.
5. Memutuskan alokasi media secara geografis.
Philip Kotler (2002:668) menyatakan bahwa pemilihan media iklan melibatkan pencarian media yang paling efektif biaya untukmenyampaikan jumlah paparan yang diinginkan bagi audiens sasaran. Kelebihan dan kekurangannya setiap media iklan dinyatakan Lamb, Hair dan Mc Daniel (2001:217) sebagai berikut:
Tabel …
Keunggulan dan Kelemahan Media Periklana Utama
Media Keunggulan Keterbatasan
1. Koran Selektifitas dan fleksibilitas georafis, komitmen pemsangan iklan jangka pendek pemasang iklan, nilai berita dan kesegaran, pembacaan tahun cakupan pasar yang tinggi, kerjasama dan tersedianya hubungan local, rentang waktu yang pendek. Selektifitas demografis yang kecil, terbatasnya kesediaan warna, rendahnya penerusan, mungkin mahal.
2. Majalah Reproduksi yang baik terutama untuk warana, selektifitas demografis, selektifitas regional, selektifitas pasar local, umur iklan yang bertahan lama, tingkat penerusan yang panjang. Komitmen jangka pendek dari pemsangan iklan, lamban membangun pemirsa, kemampuan demontrasi yang terbatas, kurangnya urgensi rentang waktu yang panjang.
3. Radio Biaya rendah, pesan cepat, dapat dijadwal pada pemberitahuan singkat, secara relatif tidak ada musim pada pendengar, dapat di dengar dimana saja, komitmen jangka pendek dari pada pemasang iklan, bermuatan hiburan. Tidak ada perlakuan visual, umur iklan yang pendek, membutuhkan frekuensi yang tinggi untuk menghasilkan pengertian dan ingatan, pengalihan perhatian dari latar belakang suara, kekacauan iklan.
4. Televisi Kemampuan jangkauan yang lebih luas, pemirsa yang beragam, peluang kreatif untuk deminstrasi, pesan disampaikan dengan cepat, sipat hiburan, selektivititas demografis dengan stasiun kabel. Umur pesan pendek, beberapa konsumen skeptis tetang pernyataan,biaya kampanye tinggi, selektivitas demografis yang kecil dengan stasiun, komitmen jangka panjang daripara pemasang iklan, rentang waktu yang panajang untuk memperoduksi, kekacauan iklan.
5. Media luar ruangan Terjadi pengulangan, biaya sedang fleksibilitas, selektifitas geografis. Pesan pendek kurang selektifitas demografis, tingkat kegaduhan tinggi, mengalihkan perhatian pemirsa.
6. Internet dan word wide web Media yang paling cepat pertumbuhannya, mampu menjangkau target pemirsa yang sempit, secara relatif memerlukan rentang waktu yang pendek untuk membuat iklan dengan web, biaya sedang. Sulit untuk mengukur efektivitas dan tingkat pengembalian investasi, eksposur iklan bergantung pada “klik melalui judul iklan” judul dikanan, tidak semua konsumen dapat mengakses internet.

e. Measurement
Umumnya para pengiklan berusaha mengukur dampak komunikasi dari suatu iklan, yaitu potensi dampaknya pada kesadaran, pengetahuan atau preferensi. Mereka juga ingin mengukur dampak terhadappenjualan karena adanya iklan tersebut (Philip Kotler, 2002:667). Untuk mengukur dampak dari periklanan tersebut para pemasar perlu mengadakan riset untuk efektivitas iklan tersebut. Menurut Philip Kotler (2002:677-679) riset tersebut antara lain:
1. Riset dampak komunikasi
Riset dampak komunikasi berusaha untukmenentukan apakah suatu iklan berkomunikasi secara efektif. Disebut juga copy testing, riset itu dapat dilakukan sebelum iklan di tempatkan di media dan setelah dicetak atau disiarkan.
2. Riset dampak penjualan
Dampak penjualan iklan akan lebih sulit diukur dari pada dampak komunikasi. Penjualan dipengaruhi oleh berbagai faktor selain iiklan, seperti tampilan produk, harga, ketersediaan dan tindakan pesaing. Semakain sedikit faktor-faktor itu atau semakin terkenndalinya faktor tersebut berarti semakin mudah untuk mengukur dampak iklan pada penjualan. Perusahaan-perusahaan biasanya tertarik untuk mengetahui apakah mereka mengeluarkan terlalu banyak atau terlalu sedikit untuk iklan. Pangsa pengeluaran iklan perusahaan menghasilkan pangsa suara yang menghasilkan pangsa pikir dan perasaan yang akhirnya menghasilkan pangsa pasar.

2.1.6 Pengertian Jasa dan Karakteristik Jasa
Dalam memasarkan jasa pada dasarnya relative lebih sulit daripada memasarkan produk barang, karena salah satu ciri utama jasa merupakan intangible. Jasa mempunyai karakteristik tersendiri berbeda dengan barang yang berwujud.
Menurut Faddy Tjiptono (2001: 98) : “Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual”.
Sedangkan menurut Farida Jasfar (2005:17):
Jasa adalah setiap tindakan atau aktivitas dan bukan benda, yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (.tidak ber wujud fisik), konsumen terlibat aktif dalam prosesproduksi dan tidak menghasilkan kepemilikan.

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa jasa adalah segala tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan untuk dijual oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.
Barang memiliki karakteristik yang berlawanan dengan jasa. Menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli (1998: 84-86), karakteristik jasa terdiri dari:
1. Tidak berwujud (Intangible), jasa tidak berwujud. Tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli.
2. Tidak terpisahkan (Inseparibility), umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, didistribusikan lewat penjual dan kemudian baru dikonsumsi. Jika seseorang melakukan jasa, maka penyedianya adalah bagian dari jasa, karena klienjuga hadir disaat jasa itu dilakukan, interaksi penyedia klien adalah cirri khusus dari penyedia jasa. Baik penyedia maupun klien mempengaruhi hasil jasa.
3. Bervariasi (Variability), karena tergantung dari siapa yang menyediakan serta kapan jasa itu dilakukan, jasa sangat bervariasi. Pembeli jasa sangat menyadari variabilitas yang tinggi ini dan sering membicarakannya dengan orang lain sebelum memilih orang penyedia jasa.
4. Mudah lenyap (Perishability), jasa tidak bisa disimpan. Mudah lenyapnya jasa tidak menjadi masalah bila permintaan tetap karena mudah untuk lebih dahulu mengatur staf untuk melakukan jasa tersebut.

2.1.7 Pengertian Percetakan
Percetakan merupakan teknologi yang memproduksi salinan dari sebuah image dengan sangat cepat, seperti kata-kata atau gambar-gambar (image) di atas kertas, kain, dan permukaan-permukaan lainnya. Percetakan merupakan proses industri untuk memproduksi secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Hal tersebut merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi.
Percetakan adalah sebuah proses industri untuk memproduksi secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Hal tesebut merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi. Banyak buku, koran, brosur, flyer dan majalah sekarang ini biasanya dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Image yang akan dicetak di print diatas film lalu di transfer ke plat cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus. Teknik percetakan umum lainnya termasuk cetak relief, sablon, rotogravure, dan percetakan berbasis digital seperti pita jarum, inkjet, dan laser. Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas. (www.percetakan-sinarbuana.co.cc).

2.1.7.1 Proses Percetakan
Tahap-tahap percetakan adalah sebagai berikut :
1. Klien memberikan spesifikasi permintaan kepada percetakan, meliputi: Jenis publikasi yang akan dibuat (buku, brosur, newsletter, dsb.), jenis kertas yang diminta, jumlah warna, jumlah foto/gambar, jumlah lembar dan sebagainya.
2. Percetakan memberikan detil sesuai permintaan klien berikut harga, jangka waktu pengerjaan.
3. Klien menawar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Setelah deal, maka masuk pada tahap persetujuan dan kontrak.
4. Divisi Desain/Setting menyiapkan layout, menginput data (foto, illustrasi, logo) yang diperlukan kemudian didesain sesuai permintaan klien.
5. Hasil proofing (cetakan sementara) sebagai patokan hasil yang akan dicetak dberikan kepada klien untuk direvisi. Biasanya klien melakukan beberapa pengecekan, baik dari segi desain maupun isi (misalnya ada yang salah ketik atau salah letak).
6. Klien memberikan koreksi seperlunya. Setelah selesai disetujui oleh klien, percetakan melanjutkan tahap finishing desain (Final Art).
7. Hasil desain (FA) dibuat plat 4 warna (Cyan, Magenta, Yellow, Black) untuk dijadikan master film untuk pencetakan.
8. Tahap pencentakan dimulai dengan mesin cetak 4 warna (Cyan, Magenta, Yellow, Black). Beberapa percetakan juga menyediakan pencetakan lebih dari 4 warna, misalnya dengan tambahan warna khusus (Spot Color) untuk pencetakan logo yang akurat atau tinta tambahan seperti tinta emas dan lainnya.
9. Tahap pemotongan kertas untuk merapikan.
10. Tahap penjilidan/laminating bila diperlukan untuk design 'lux' dan sebagainya.
11. Tahap pengiriman hasil cetakan ke klien.

2.1.8 Peranan Periklanan Dalam Jumlah Pelanggan
Bagi perusahaan percetakan, periklanan berfungsi menginformasikan kepada khalayak mengenai keberadaan usahanya serta keunggulan-keunggulan produk percetakan yang dimilikinya, juga untuk menarik minat khalayak agar mau menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaannya, dan untuk mempertahankan citra perusahaan di mata khalayak masyarakat, konsumen atau pelanggan.
Setelah mendengar atau melihat iklan dari suatu perusahaan percetakan, khalayak diharapkan selalu teringat pada perusahaan tersebut walaupun tidak memutuskan untuk menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaan yang bersangkutan pada saat itu juga, tetapi jika pada suatu saat ingin membeli dan memakai jasa percetakan maka nama perusahaan percetakan tersebut yang pertama diingat. Hal itu akan menjadi alasan khalayak untuk datang pada perusahaan percetakan yang bersangkutan untuk meminta informasi lebih lanjut, dan akhirnya berminat untuk menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaan percetakan yang bersangkutan.
Sehingga periklanan memiliki peranan yang sangat penting untuk meyakinkan konsumen agar melakukan pembelian (menjadi pelanggan), sehingga akan mempengaruhi jumlah pelanggan. Kotler (2000: 581)
Sebagai pendekatan terhadap pemecahan masalah ini, maka dapat dilihat melalui gambar berikut ini:
Gambar 2
Hubungan Periklanan Dengan Jumlah Pelanggan






Sumber : Kotler (2000: 581)
Berdasarkan apa yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa apabila periklanan direncanakan dengan baik dan dilaksanakan dengan tepat, maka akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil penjulan (jumlah pelanggan), karena iklan dapat mendatangkan suatu ketertarikan pada pelanggan, sehingga akan tercipta sejumlah pelanggan yang loyal pada perusahaan.

2.2 Pendekatan Masalah
Kondisi persaingan yang semakin ketat tidak saja dialami oleh perusahaan penghasil barang, tetapi juga dialami oleh perusahaan penghasil jasa seperti halnya perusahaan percetakan.
Menurut Hendra Teguh (www.percetakan-sinarbuana.co.cc) :
Percetakan adalah teknologi yang memproduksi salinan dari sebuah image dengan sangat cepat, seperti kata-kata atau gambar-gambar (image) di atas kertas, kain, dan permukaan-permukaan lainnya. Percetakan merupakan proses industri untuk memproduksi secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Hal tersebut merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi.

Setiap perusahaan percetakan bersaing dalam memperebutkan pasar potensial agar bersedia untuk membeli atau memakai jasa percetakannya. Kondisi persaingan ini memaksa usaha percetakan untuk lebih memperhatikan masalah pemasaran. Pada awal produk yang diluncurkan atau kebijakan baru dari perusahaan dapat dipastikan masyarakat atau konsumen belum mengenal dan mengetahui produk atau kebijakan yang dihasilkan atau diluncurkan oleh perusahaan percetakan tersebut. Untuk melakukannya maka dilakukan kegiatan promosi.
Menurut Mc. Carthy yang diterjemahkan oleh Agus Dharma (1996: 294) : “Promosi adalah suatu informasi komunikasi antara penjual dan pembeli untuk mempengaruhi sikap dan perilaku”. Melalui promosi, perusahaan dapat memperkenalkan dan menawarkan produk-produknya kepada khalayak/masyarakat atau konsumen. Dalam melaksanakan kegiatan promosi perusahaan dapat mengkombinasikan atau memilih salah satu diantara sekian jenis bauran promosi. Menurut Kotler (2000: 550), bauran promosi terdiri dari : advertising, sales promotion, public relations and publicity, personal selling and direct marketting. (iklan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, kewiraniagaan dan pemasaran langsung).
Periklanan merupakan salah satu unsur dalam bauran promosi yang memiliki arti luas serta manfaat yang besar bagi perusahaan dalam berkomunikasi dengan masyarakat atau konsumen. Menurut Kotler (2000: 578) : “Advertising is any paid form of non personal presentation and promotion of ideas, goods, or services by an identified sponsor”. (Iklan adalah segala sesuatu apapun yang dibayar dalam bentuk yang termasuk presentasi perorangan dan promosi ide, barang, atau jasa oleh layanan dari sponsor teridentifikasi).
Setiap perusahaan memandang bahwa masyarakat atua konsumen merupakan suatu asset berharga yang harus dijaga serta dipertahankan, dan untuk memenangkan konsumen sebagai pelanggan jangka panjang adalah dengan memahami kebutuhan dan perilaku pembeli secara lebih baik daripada yang dilakukan oleh pesaing (Djaslim Saladin, 2002: 8). Begitu pula dengan bisnis percetakan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, konsumen memliki peran yang penting dalam menunjang kelancran usaha percetakan, karena itu keinginan dan kebutuhan konsumen harus selalu diperhatikan. Menurut UU PK “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”. Setiap konsumen memiliki kebutuhan dan perilaku pembelian yang beragam, karena itu konsumen perlu dibujuk agar terdorong untuk membeli dan memakai jasa percetakan. Salah satu cara yang ditempuh oleh perusahaan percetakan untuk meraih tujuan itu adalah dengan melaksanakan kegiatan periklanan yang efektif.
Agar kegiatan periklanan benar-benar efektif dalam meningkatkan hasil penjualan (jumlah pelanggan), maka perlu dilakukan perencanaan yang baik sebelum kegiatan periklana tersebut dilaksanakan. Menurut Kotler (2000: 578), terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan untuk membuat rencana program periklanan yang baik terdiri dari : (1) Setting the advertising objective, (2) Deciding on the advertising budget, (3) Choosing the advertising message, (4) Deciding on the advertising media, (5) Evaluating the advertising effectiveness.
Untuk lebih jelasnya apa yang diputuskan pada setiap kegiatan dapat dilihat pada gambar 3:







Gambar 3
The Five Ms of Advertising








Sumber : Kotler (2000: 579)
Bagi perusahaan percetakan, periklanan berfungsi menginformasikan kepada khalayak mengenai keberadaan usahanya serta keunggulan-keunggulan produk percetakan yang dimilikinya, juga untuk menarik minat khalayak agar mau menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaannya, dan untuk mempertahankan citra perusahaan di mata khalayak masyarakat, konsumen atau pelanggan.
Setelah mendengar atau melihat iklan dari suatu perusahaan percetakan, khalayak diharapkan selalu teringat pada perusahaan tersebut walaupun tidak memutuskan untuk menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaan yang bersangkutan pada saat itu juga, tetapi jika pada suatu saat ingin membeli dan memakai jasa percetakan maka nama perusahaan percetakan tersebut yang pertama diingat. Hal itu akan menjadi alasan khalayak untuk datang pada perusahaan percetakan yang bersangkutan untuk meminta informasi lebih lanjut, dan akhirnya berminat untuk menjadi pelanggan yang loyal pada perusahaan percetakan yang bersangkutan.
Sehingga periklanan memiliki peranan yang sangat penting untuk meyakinkan konsumen agar melakukan pembelian (menjadi pelanggan), sehingga akan mempengaruhi jumlah pelanggan. Kotler (2000: 581)
Sebagai pendekatan terhadap pemecahan masalah ini, maka dapat dilihat melalui gambar 4.
Gambar 4
Hubungan Periklanan Dengan Jumlah Pelanggan









Sumber : Kotler (2000: 581)
Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara masing-masing variabel dapat dilihat pada paradigma penelitian berikut ini :



Gambar 5
Paradigma Penelitian







Berdasarkan apa yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa apabila periklanan direncanakan dengan baik dan dilaksanakan dengan tepat, maka akan sangat berperan penting dalam meningkatkan hasil penjulan (jumlah pelanggan).

Jumat, 15 April 2011

TUGAS SEMINAR AGAMA ISLAM FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS GALUH CIAMIS

IBADAH HAJI
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.
Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.
Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara', haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka'bah dan Mas'a(tempat sa'i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa'i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

B.Tujuan Permasalahan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberi gambaran tentang ibadah haji secara umum, terutama berkaitan dengan hal-hal yang umum dilakukan dalam melakukan ibadah haji.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Ibadah Haji
Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa'i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara' (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur'an dan sunnah rasul.
Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum nabi Ibarahim. Ritual sa'i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka'bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia.
Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana hadis berikut yang artinya:
Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Diantara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar.

Berikut adalah jenis dan pengertian haji yang dimaksud:
1.Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad bila sesorang bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam hal ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, ketika mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang tersebut berniat melaksanakan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.
2.Haji tamattu', mempunyai arti bersenang-senang atau bersantai-santai dengan melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu' dapat juga berarti melaksanakan ibadah didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.
3.Haji qiran, mengandung arti menggabungkan, menyatukan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud disini adalah menyatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama. Menurut Abu Hanifah, melaksanakan haji qiran, berarti melakukan dua thawaf dan dua sa'i.

B.Rukun Haji
Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan hajinya tidak syah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :
1.Ihram,
Ihram, Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umrah di Miqat Makani. Amalan Umrah yang pertama adalah Ihram. Ihram adalah niat memasuki manasik (upacara ibadah haji) haji dan umrah atau mengerjakan keduanya dengan menggunakan pakaian ihram, serta meninggalkan beberapa larangan yang biasanya dihalalkan.
a.Pakaian Ihram
Untuk pria
Bagi laki-laki terdiri atas 2 lembar kain yang tidak dijahit, yang satu lembar disarungkan untuk menutupi aurat antara pusat hingga lutut, yang satu lembar lagi diselendangkan untuk menutupi tubuh bagian atas. Kedua lembar kain disunatkan berwarna putih, dan tidak boleh berwarna merah atau kuning.
Untuk wanita
Mengenakan pakaian yang biasa, yakni pakaian yang menutupi aurat.
b.Tempat-tempat Ihram
Zul Hulaifah
Juhfah
Yalamlam
Qarnul Manjil
Zatu Irqin
Makkah
2.Wukuf
Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, zikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Setelah shalat subuh tanggal 9 Zulhijjah, jemaah haji berangkat dari Mina ke Arafah sambil menyerukan Talbiyah, dan singgah dahulu di Namirah.
Para jemaah sampai di Padang Arafah tepat pada waktu Zuhur dan ashar dengan jama’ taq’dim dan qasar dengan satu kali azan dan dua ikamah. Selesai shalat, imam kemudian menyampaikan khutbah dari atas mimbar.
Selama wukuf di Arafah, para jemaah haji menghabiskan/mengisi waktunya untuk memahasucikan Allah dengan meneriakan talbiyah, berzikir dan berdoa sebagai berikut:
Labbaika Allahumma labbaik (a), labbaika la syarika laka labbaik (a). Innal hamda wannimata lak (a), wal mulka laka la syarika lak (a).
3.Tawaf Ifadah
Tawaf Ifadah, Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah
4.Sa'i,
Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah. Adapun praktik pelaksanaan ibadah sa’i adalah sebagai berikut:
Dilakukan sesudah tawaf
Berlari-lari kecil atau berjalan cepat dari bukit Safa menuju bukit Marwah
Dikerjakan sebanyak tujuh kali putaran: dari Safa ke Marwah satu putaran, dan dari Marwah Sa’I hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mengerjakan haji atau umrah saja.
5.Tahallul
Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa'i. Setelah melontar Jumrah ‘Aqabah, jamaah kemudian bertahallul (keluar dari keadaan ihram), yakni dengan cara mencukur atau memotong rambut kepala paling sedikit tiga helai rambut. Laki-laki disunnahkan mencukur habis rambutnya, wanita mencukur ujung rambut sepanjang jari, dan untuk orang-orang yang berkepala botak dapat bertahallul secara simbolis saja. Setelah melaksanakan tahallul, perkara yang sebelumnya dilarang sekarang dihalalkan kembali, kecuali menggauli istri sebelum melakukan tawaf ifadah.
6.Tertib
Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.

C.Wajib Haji
Wajib Haji Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah;
1.Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram
2.Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina). Di Mudzalifah para jemaah haji menunaikan shalat magrib dijamak dengan shalat isya dengan satu kali azan dan dua iqamah. Kemudian, mereka bermalam lagi
3.Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah yaitu dengan cara melontarkan tujuh butir kerikil berturut-turut dengan mengangkat tangan pada setiap melempar kerikil sambil berucap, “Allahu Akbar. Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”. Setiap kerikil harus mengenai ke dalam jumrah jurang besar tempat jumrah.
4.Mabit di Mina pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). Hukumnya adalah sunnah.
5.Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
6.Tawaf Wada', Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.
7.Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram

D.Pelaksanaan Ibadah Haji
1.BERIHRAM
Pakailah pakaian ihram pada hari ke-8 (delapan) bulan Dzulhijjah di Mekkah dengan berdiri menghadap qiblat seraya mengucapkan, “Labbaikallahumma hajjatan (Aku penuhi panggilan-Mu “Ya Allah” dengan mengerjakan haji).”
2.MABIT DI MINA
Berangkatlah menuju Mina setelah matahari terbit dan laksanakanlah shalat fardhu 5 (lima) waktu secara qashar (diringkas), yaitu melakukan shalat Zhuhur, Ashar dan Isya dengan dua rakaat di setiap waktunya, dan bermalamlah di Mina sehingga dapat melaksanakan shalat Shubuh di sana.
3.WUKUF DI ARAFAH
Berangkatlah menuju Arafah pada hari ke-9 (kesembilan) setelah matahari terbit, sambil melakukan talbiyah dan takbir, dan dirikanlah shalat Zhuhur dan Ashar secara qashar dan jam’u taqdim (mengumpulkan dua waktu shalat tersebut di waktu shalat yang lebih awal (dzhuhur), pent.) dengan satu azan dan dua iqamat tanpa ada shalat sunnahnya. Dan pastikan bahwa anda benar-benar berada di dalam batas wilayah Arafah karena wukuf di Arafah merupakan rukun penting dalam pelaksanaan haji, barangsiapa meninggalkannya maka hajinya menjadi tidak sah.
Berdiri menghadap qiblat sambil mengangkat kedua belah tangan untuk berdoa hanya kepada Allah semata, dan dilarang untuk berdoa kepada selain-Nya. Seraya melakukan talbiyah dan ucapan :
4.MABIT DI MUZDALIFAH
Bertolaklah secara tenang dari Arafah setelah matahari terbenam menuju Muzdalifah, dan shalatlah Maghrib dan Isya secara qashar dan jam’u ta`khir (mengumpulkan dua waktu shalat tersebut di waktu shalat yang lebih akhir (Isya), pent.) dengan satu azan dan dua iqamat tanpa ada shalat sunnahnya. Bermalamlah (mabit) di Muzdalifah sebagai kewajiban haji hingga anda melaksanakan shalat Fajar. Selanjutnya berzikir di Masy’aril Haram dengan menghadap qiblat sambil mengangkat kedua belah tangan anda untuk berdoa, bertahmid, bertahlil mentauhidkan Allah dan (tempat mana saja di) Muzdalifah semuanya adalah Masy’aril Haram. Diperkenankan bagi orang yang lemah (seperti wanita dan orang tua renta, pent) untuk meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam.
5.MELONTAR
Bertolaklah dari Muzdalifah sebelum matahari terbit menuju Mina pada hari ‘Iedul Adhha sambil mengucapkan talbiyah. Dan hendaklah anda kerjakan secara tenang. Lakukankanlah lontaran ke Jamrah Kubra (yaitu Jamrah terakhir yang paling dekat dari Mekkah, pent.) setelah terbit matahari, sekalipun sampai malam –jadikanlah posisi Mekkah (qiblat) di sebelah kiri anda dan posisi Mina di sebelah kanan anda- dengan 7 (tujuh) kerikil yang anda ambil sejak di Muzdaliah, seraya melakukan takbir pada setiap batu kerikil yang dilontarkan. Pastikan anda mengetahui bahwa kerikil tersebut telah jatuh ke dalam cawan tempat lontaran (al-marma). Seandainya lontarannya tidak ada yang meleset, maka hentikanlan bacaan talbiyah pasca pelaksanaan pelontaran berakhir.
Kenakanlah pakaian anda dan pakailah wangi-wangian , maka dihalalkan bagi anda segala (yang dilarang waktu berihram) kecuali bersetubuh.
6.SEMBELIH HEWAN QURBAN
Sembelih dan kulitilah hewan qurban di Mina atau di Mekkah pada hari-hari “Ied. Dari sembelihan tersebut, makanlah dan berilah makan orang-orang faqir. Diperkenankan untuk mewakilkannya. Maka anda dapat membayar harga hewan qurban kepada orang yang anda percayai untuk melaksanakannya, baik kepada personal-personal atau lembaga-lembaga tertentu yang dipercaya. Seandainya ia tidak berkemampuan untuk membayar harga hewan qurban, maka berpuasalah selama 3 (tiga) hari pada masa haji dan 7 (tujuh) hari jika ia telah kembali ke keluarganya. Dan bagi wanita berlaku hukumnya seperti pria. Dan ini hukumnya adalah wajib untuk haji tamattu’ dan qiran.
7.MENCUKUR
Cukurlah habis rambut anda seluruhnya atau potong pendeklah sekalian semuanya, dan mencukur habis lebih utama (afdhal) dari sekedar memendekkan. Sedangkan bagi wanita, dipotong rambutnya sedikit saja. Jangan merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang dengan memendekkan sebagian rambut kepalanya, bahkan seharusnya dipotong pendek seluruh bagiannya. Karena memotong pendek menempati posisi mencukur, sementara cukuran berlaku untuk seluruh rambut dibagian kepala.
8.TAWAF DAN SA’I
Bertolaklah menuju Mekkah, lalu bertawaflah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 (tujuh) putaran. Bersa’ilah antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 (tujuh) kali sebagaimana yang dijelaskan dimuka pada “Rangkaian Pelaksanaan Umrah”. Setelah melakukan tawaf dan sa’i, maka bagi anda dihalalkan istri anda setelah sebelumnya dilarang untuk “didekati”. Seandainya tidak memungkinkan bagi anda untuk melakukan tawaf dan sa’i pada hari ini, maka dapat dilakukan pada hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah, pent). Jika belum bisa juga, maka di hari-hari Dzulhijjah.
Sunnah untuk melaksanakan rangkaian amal secara tertib di Hari ‘Ied, sebagai berikut :
a.Melontar Jumrah Al-Aqabah (qubra), lalu
b.Menyembelih hewan qurban, lalu
c.Mencukur rambut, lalu
d.Bertawaf Ifadhah, lalu
e.Melakukan sa’i bagi haji tamattu’.
9.MABIT DI MINA DAN MELONTAR
1.Kembalilah ke Mina pada hari-hari ‘Ied dan bermabitlah di sana sebagai wajib hukumnya.
2.Melontar, waktunya setelah Zhuhur hingga terbenam matahari dan dapat diperpanjang hingga malam hari pada kondisi-kondisi yang darurat.
3.Lakukanlah lontaran di 3 (tiga) Jamrah secara tertib, dimulai dari ash-Shughra (yang kecil), dengan 7 (tujuh) butir kerikil (yang dipungut dari Mina) di setiap Jamrah, seraya bertakbir di setiap batu yang dilontarkan. Serta berdirilah menghadap qiblat setelahnya sambil mengangkat kedua belah tangan untuk berdoa sebanyak-banyaknya kepada Allah semata.
4.Kemudian lakukanlah lontaran Jamrah al-Wushtha persis seperti yang dilakukan di ash-Shugra dan berdirilah setelahnya untuk berdoa.
5.Kemudian lakukanlah lontaran Jamrah al-Kubra dengan menjadikan posisi Mina di sebelah kanan anda dan Mekkah (qiblat) di sebelah anda. Dan tidak berdiri untuk berdoa setelahnya.
6.Lakukanlah lontaran ke 3 (tiga) Jamrah pada hari ketiga dari hari ‘Ied, persis seperti yang anda lakukan di hari ke-2 (dua)nya dari hari ‘Ied. Dan bertolaklah dari Mina sebelum terbenamnya matahari –jika situasi menuntut anda untuk menyegerakan- namun jika tidak maka wajib bagi anda untuk mabit di Mina dan melontar ke-3 Jamrah di hari ke-4. Yang demikian itu adalah lebih utama (afdhal).
7.Diperbolehkan bagi orang yang beruzur syar’i (al-ma’dzur) untuk mengakhirkan lontaran di hari ke-2 (dua) dari hari ‘Ied ke hari ke-3 (tiga)nya. Dan dari hari ke-3 (tiga) ke hari ke-4 (empat)nya. Dan diperbolehkan pula untuk mewakilkan pelaksanaan lontaran bagi wanita yang lemah, orang yang sakit, orang-orang yang renta, juga anak-anak.
10.TAWAF WADA’
Hukumnya wajib kepada selain wanita yng haid dan nifas, dan menjadualkan acara perjalanan (as-safar) setelahnya. Maka wajib untuk menyembelih binatang bagi yang meninggalkannya, atau meninggalkan pelaksanaan lontar, atau tarkib mabit di Mina.

Tempat Istimewa dalam Ibadah Haji
1.Makkah Al Mukaromah
Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.
2.Arafah
Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.
3.Mina
Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.
4.Muzdalifah
Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.


5.Madinah
Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini.

Tempat Bersejarah
1.Jabal Nur dan Gua Hira
Jabal Nur terletak kurang lebih 6 km di sebelah utara Masjidil Haram. Di puncaknya terdapat sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Hira. Di gua inilah Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama, yaitu surat Al-'Alaq ayat 1-5.
2.Jabal Tsur
Jabal Tsur terletak kurang lebih 6 km di sebelah selatan Masjidil Haram. Untuk mencapai Gua Tsur ini memerlukan perjalanan mendaki selama 1.5 jam. Di gunung inilah Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar As-Siddiq bersembunyi dari kepungan orang Quraisy ketika hendak hijrah ke Madinah.
3.Jabal Rahmah
Yaitu tempat bertemunya Nabi Adam as dan Hawa setelah keduanya terpisah saat turun dari surga. Peristiwa pentingnya adalah turunnya wahyu yang terakhir pada Nabi Muhammad saw, yaitu surat Al-Maidah ayat 3.
4.Jabal Uhud
Letaknya kurang lebih 5 km dari pusat kota Madinah. Di bukit inilah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah. Dalam pertempuran tersebut gugur 70 orang syuhada di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Kecintaan Rasulullah saw pada para syuhada Uhud, membuat beliau selalu menziarahinya hampir setiap tahun. Untuk itu, Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi.
5.Makam Baqi'
Baqi' adalah tanah kuburan untuk penduduk sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi', letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Di sinilah makam Utsman bin Affan ra, para istri Nabi, putra dan putrinya, dan para sahabat dimakamkan. Ada banyak perbedaan makam seperti di tanah suci ini dengan makam yang ada di Indonesia, terutama dalam hal peletakan batu nisan lihat Hikmah Ziarah ke Makam Baqi'.
6.Masjid Qiblatain
Pada masa permulaan Islam, kaum muslimin melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina. Pada tahun ke-2 H bulan Rajab pada saat Nabi Muhammad saw melakukan shalat Zuhur di masjid ini, tiba-tiba turun wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan agar kiblat shalat diubah ke arah Kabah Masjidil Haram, Mekah. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.

E.Haji Mabrur
Ibadah haji termasuk ibadah yang paling utama dan ketaatan yang paling agung, ia adalah salah satu rukun Islam yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga tidak sempurna agama seorang hamba kecuali dengannya. Sementara itu ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla tidak menjadi sempurna dan tidak dapat diterima, kecuali dengan dua perkara yaitu
(1)Ikhlash karena Allah Azza wa Jalla dengan mengarahkan maksud ibadah hanya semata-mata kepada Allah dan kampung akhirat. Ibadah yang dilakukan tidak bermaksud untuk dipamerkan (riya’) dan digembar-gemborkan (sum’ah) dan tidak ada tendensi kepentingan duniawi.
(2)Ittiba’un Nabiy (mengikuti Nabi) Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berujar dan bersikap. Sedangkan upaya untuk ittiba’un Nabiy tidak mungkin terealisasi kecuali dengan mengetahui sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karenanya menjadi wajib bagi siapa saja yang hendak melaksanakan ibadah kepada Allah untuk mempelajari petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai tuntunannya, sehingga amalnya bersesuaian dengan sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

a.Indikator Saat Ibadah Haji
2.Motivasi atau niat Ibadah Haji, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
3.Proses pelaksanaan sesuai dengan contoh ibadah Rasulullah saw. dimana syarat, rukun wajib (bahkan sunat) ibadah tersebut terpenuhi.
4.Biaya untuk ibadah tersebut diperoleh dengan cara yang halal.
5.Dampak dari ibadah haji positif bagi pelakunya, yaitu adanya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji.
b.Indikator Setelah Ibadah Haji
1.Patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, patuh melaksanakan sholat, konsekuen membayar zakat, sungguh-sungguh membangun keluarga sakinah mawaddah dan wa rahmah, selalu rukun dengan sesama umat manusia, sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.
2.Konsekuen meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, bid'ah dsb.
3.Gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat.
4.Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, menda'wahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar ma'ruf dengan cara yang ma'ruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.
5.Memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, tasamuh, pemaaf, tawadlu dsb.
6.Malu kepada Allah SWT utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya.
7.Semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam.
8.Bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.
9.Cepat melakukan taubat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa.
10.Sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan "Izzul Islam wal Muslimin".

BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah).
Haji adalah salah satu rukun islam, haji adalah ibadah yang tergabung padanya antara amalan badan dan pengorbanan harta, dan haji adalah salah satu ibadah yang paling agung, yang memiliki kandungan makna, dan hikmah yang sangat luas lagi mendalam.

B.Saran
Bagi umat islam yang hendak melaksanakan ibadah haji, sebaiknya mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental atau spiritual sebab ibadah haji merupakan ibadah yang sangat menguras tenaga disamping mental dan bathin.

Kamis, 07 April 2011

PERANAN PENGEMASAN DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN PADA PERUSAHAAN GALENDO “ DOYANKU” CIAMIS

1. Latar Belakang Penelitian
Untuk dapat menghadapi situasi persaingan, pihak manajemen perusahaan perlu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pengemasan produk yang penting diperhatikan dan dipertahankan kedudukannya di dalam pasar . Tetapi pengemasan produk saja tidak akan cukup apabila tidak didukung oleh program pemasaran seperti kegiatan promosi, penetapan harga, dan distribusi sehingga akan terdapat suatu keterpaduan dalam suatu perusahaan.
Hal tersebut sangat penting sekali untuk kelancaran penjualan, selain itu juga keterpaduan mempunyai tujuan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi selera konsumen, sehingga dapat memperoleh kepuasan .
Untuk dapat tercapainya tujuan yang diharapkan, diperlukan suatu cara agar kemasan produk dan produk yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan selera konsumen, dengan cara melakukan pengembangan produk dalam bentuk penciptaan produk baru, meningkatkan kualitas produk maupun peningkatan kualitas kemasan yang disesuaikan dengan selera, dan keinginan konsumen.
Dengan melakukan pengemasan produk yang baik dan disukai oleh konsumen yaitu kemasan yang dapat melindungi produk dari sinar matahari, benda tajam bahkan kemasan yang memenuhi sasaran keamanan dan kemanfaatan. Selain itu kemasan mempunyai daya tarik, sehingga dapat dijadikan alat promosi yang diharapkan dan dapat digunakan sebagai alat untuk menghadapi para pesaing, juga dapat mendongkrak volume penjualan, sehingga dapat memberikan dampak yang baik bagi kelangsungan hidup perusahaan.
Keputusan mengenai pengemasan kebanyakan didasarkan dengan pertimbangan-pertimbangan biaya dan produksi. Akan tetapi pada masa sekarang ini, ada berbagai macam faktor yang telah memungkinkan meningkatkan kemakmuran konsumen berarti konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk kenyamanan, penampilan, keandalan dan gengsi dari kemasan yang menarik, semakin banyaknya produk yang dijual secara swalayan di pasar serba toko-toko dan kesediaan pengecer untuk menjual produk dengan kemasan yang praktis saja.
Kabupaten Ciamis banyak ditanami pohon kelapa yang tumbuh subur di berbagai daerah, karena banyaknya pohon kelapa yang tumbuh masyarakat kota ciamis mengolah buah kelapa menjadi minyak kelapa, minuman sari kelapa dan Galendo yang menjadikan makanan khas kota Ciamis.
Salah satu perusahaan yang memproduksi makanan khas di Ciamis ini adalah perusahaan Galendo “Doyanku”, perusahaan tersebut memproduksi galendo dengan berbagai kemasan, ukuran dan rasa yang bervariasi, inovatif dan kreartif. Untuk kemasan dan ukuran perusahaan menyediakan dalam ukuran I Kg, Galendo kemasan dengan anyaman bambu, Galendo padat dengan berat 200gr, dan Galendo toples/bulat.
Selain kemasan yang bervariasi perusahaan Galendo “Doyanku” menyentuh aspek rasa Galendo agar lebih bervariasi . Beberapa rasa Galendo seperti rasa wijen, rasa susu, rasa pisang dan rasa kacang yang tentunya mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan, sehingga mampu meningkatkan volume penjualan.
Di tengah situasi persaingan yang semakin tajam , dengan perusahaan Perusahaan sejenis, perusahaan galendo dapat bertahan dengan memperhatikan faktor-faktor seperti kualitas produk, jenis dan kemasan yang disediakan sangat mempengaruhi terhadap keputusan konsumen dalam memilih produk yang dianggap bisa memuaskan mereka, serta dalam rangka meningkatkan volume penjualannya berusaha merancang dan melaksanakan kegiatan pengemasan yang dianggap paling baik.
Usaha pengemasan produk suatu perusahaan perlu dilakukan dengan mengacu kepada kebutuhan dan keinginan konsumen yang selalu berubah mengikuti kemajuan zaman, maka hal tersebut dapat menjadi suatu strategis yang efektif bagi perusahaan dalam menawarkan produknya sehingga cocok dengan selera konsumen.
Berdasarkan uraian di atas serta berdasarkan pertimbangan bahwa penulis sebagai salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen dan Mata Kuliah Manajemen Pemasaran merupakan salah satu mata kuliah pokok, maka dengan demikian penulis melakukan penelitian mengenai pengemasan yang dilaksanakan oleh perusahaan galendo dalam kaitannya dengan peningkatan volume penjualan yang dituangkan dalam bentuk usulan penelitian dengan judul. “Peranan Pengemasan dalam Meningkatkan Volume Penjualan pada Perusahaan Galendo Doyanku Ciamis”.

2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang diuraikan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Pelaksanaan kegiatan pengemasan yang dilakukan oleh perusahaan galendo Doyanku di Kabupaten Ciamis ?
3. Bagaimana volume penjualan yang diperoleh perusahaan Galendo “Doyanku” Ciamis.?
4. Bagaimana peranan kegiatan pengemasan terhadap peningkatan volume penjualan di perusahaan Galendo “ Doyanku” di Kabupaten Ciamis ?

3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
1. Pelaksanaan kegiatan pengemasan pada perusahaan Galendo Doyanku di Kabupaten Ciamis.
2. Tingkat volume penjualan yang diperoleh perusahaan Galendo Doyanku di Kabupaten Ciamis.
3. Peranan pengemasan terhadap peningkatan volume penjualan pada perusahaan Galendo Doyanku di Kabupaten Ciamis

4. Kegunaan Penelitian
4.1 Kegunaan Teoritis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penulis, umumnya berbagai pihak yang ingin lebih jauh memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dibidang ekonomi manajemen khusunya peranan pengemasan dalam meningkatkan volume penjualan.

4.2 Kegunaan Praktis
1. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan terutama mengenai peranan pengemasan dalam meningkatkan volume penjualan di Perusahaan Galendo Doyanku Ciamis. Selain itu, dapat memberikan pengetahuan baru dalam bidang manajemen pemasaran, sehingga dapat dibandingkan antara teori yang didapat dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
2. Bagi Perusahaan
Dapat memberikan masukan, saran dan informasi yang bermanfaat bagi peningkatan perusahaan selanjutnya.
3. Bagi Pihak Lain
Dapat berguna sebagai bahan referensi serta tambahan informasi bagi pihak lain yang akan melakukan penelitian kembali mengenai peranan pengemasan dalam meningkatkan volume penjualan di Perusahaan Galendo Doyanku Ciamis.

5. Kerangka Pemikiran
Dalam menghadapi situasi perdagangan yang semakin komplek dan semakin tajamnya persaingan, para produsen dituntut untuk melakukan usaha-usaha agar produk yang dihasilkan lebih inovatif dan kreatif sehingga produk yang dihasilkan dapat diterima dan memuaskan konsumen. Begitu pula dengan keberlangsungan perusahaan dapat terjaga dan mampu bersaing dengan perusahaan lain.
Sikap perusahaan menginginkan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu dapat meningkatkan volume penjualan yang dihasilkan sehingga laba perusahaan dapat terus meningkat. Untuk dapat mencapai tujuan perusahaan tersebut, setiap perusahaan harus dapat meningkatkan sistem pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengelola dan mengatur perusahaanya, karena pada kondisi pasar saat ini persaingan antara perusahaan sangat tajam dan selera konsumen yang selalu berubah-ubah yang selalu mengharapkan kepuasan atas barang maupun jasa yang dibelinya.
Dengan demikian peranan pemasaran sebagai ujung tombak perusahaan sangat menentukan dan kegiatan pemasaran harus benar-benar ditunjukan kepada pasar sasaran yang tepat, sehingga kebutuhan dan keingingan pasar terpenuhi dan tujuan perusahaan dapat tercapai.
Pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan yang saling berhubungan, yang ditunjuk untuk merencanakan produk, menentukan harga, mempromosikan barang dan jasa kepada konsumen. Dalam hal produk, baik yang berupa barang maupun yang berupa jasa merupakan suatu alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia melalui transaksi yang dilakukan.
Bila dilihat dari unsur suatu produk, maka akan terdapat faktor yang harus dipertimbangkan salah satunya adalah faktor kemasan yang didalamnya menyangkut pelaksanaan pengemasan. Pengemasan merupakan salah satu kebijakan perusahaan dalam mengelola produknya agar dapat bertahan di pasaran dan menarik minat konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.
Dalam merencanakan kemasan harus diperhatikan unsur-unsur kemasan seperti bahan kemasan yang akan digunakan, warna serta desain yang dibuat semenarik mungkin, dan fungsi yang paling utama adalah kemasan harus dapat melindungi produk. Dengan demikian kemasan yang menarik mampu meningkatkan volume penjualan suatu perusahaan. Untuk lebih memperjelas mengenai kemasan penulis mengemukakan pendapat menurut Phillip Kotler (1997 : 458) adalah sebagai berikut : “Packaging includes activities of designing and producing the container or wrapper for a product”, yang artinya adalah pengemasan termasuk kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus suatu produk.
Agar pelaksanaan pengemasan dapat berjalan secara baik, maka diperlukan suatu perencanaan yang matang, disamping itu dalam pelaksanaan pengemasan harus berdasarkan pada tujuan yang akan dicapai dan agar pelaksanaan pengemasan efektif yaitu memenuhi fungsi teknis dan ekonomis, maka perlu memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut : (Bochari Alma, 1998 : 113 - 144)
Menarik
Sebagai tempat
Dapat melindungi
Prestise
Ketetapan Ukuran
Praktis
Pengangkutan
Syarat yang pertama adalah menarik setiap perusahaan hendaknya dapat membuat pembungkus/ kemasan yang menarik, dengan pembungkus yang menarik diharapkan dapat menarik minat beli konsumen menjadi pelanggan tetap, menarik tentunya adalah kombinasi antara kemasan dengan desain yang dibuat secara apik dan kreatif, merk dan label yang digunakan oleh perusahaan.
Syarat yang kedua adalah sebagai tempat . Syarat ini adalah syarat yang telah banyak diketahui sehingga bukan merupakan persoalan lagi. Misalnya menjual minuman maka pembungkus adalah berupa botol, gelas plastik, maupun dari bahan kaleng dan bukan dari bahan kertas yang tidak dapat berfungsi sebagai tempat untuk minuman. Tapi akhir-akhir ini ada juga minuman yang terbuat dari kertas karton yang tentunya tidak tembus air karena kemajuan teknologi.
Syarat yang ketiga adalah melindungi, pembungkus harus dapat melindungi produk baik pada waktu masih di gudang, dalam pengangkutan maupun dalam peredaran untuk sampai ke konsumen sehingga kualitas barang tersebut akan tetap terjamin karena produk tersebut dapat terlindungi.
Syarat keempat adalah prestise. Biasanya pengemasan yang menarik secara otomatis akan dapat menimbulkan harga diri, misalnya saja barang-barang yang dapat dipakai untuk kado contohya saja coklat yang tersedia dalam berbagai kemasan dengan berbagai ukuran dengan kemasan yang dibuat sangat menarik sehingga bagi orang yang membeli barang tersebut akan menaikan haga dirinya. Berbeda halnya dengan toko eceran kecil atau warung-warung kecil yang tidak terlalu memperhatikan kemasan. Misalnya dengan membungkus koran atau majalah bekas , sehingga akan menimbulkan rasa malu bagi konsumen hal ini dapat menghambat kelancaran penjualan yang erat dengan merk dan label yang digunakan.
Syarat kelima adalah Praktis. Praktis disini dalam artian mudah dibawa kemanapun, bisa dibuka dan ditutup kembali, ringan, bisa disimpan dimana saja dan sebagainya.
Syarat keenam ketetapan ukuran. Ukuran pembungkus harus diperhatikan sebab hal ini erat hubunganya dengan harga. Di Negara yang sudah maju ukuran yang lebih besar akan lebih ekonomis, tapi bagi negara yang baru berkembang pada umumnya tenaga belinya lebih rendah, sehingga memang perlu dipehatikan pembungkus dengan ukuran yang terjangkau oleh daya beli sebagian besar penduduk yaitu ukuran mini.
Adapun tingkatan bahan kemasan/ wadah menurut Ating Tejasutisna (1994 : 110 )
Kemasan Dasar ( Primary Package )
Yaitu pembungkus langsung dari satu produk , contohya : botol sebagai shave lotion sebagai kemasan dasar
Kemasan Tambahan ( Secondary Package ) Yaitu bahan yang melindungi kemasan dasar dan dibuang bila produk akan digunakan, contoh : kotak karton yang membungkus after shave lotion merupakan kemasan tambahan yang melindungi botol atau sebagai alat promosi
Kemasan Pengirimaan ( Shiping Package )Yaitu setiap kemasan yang diperlukan waktu penyimpanan, pengakutan diidentifikasi, cotohnya : kotak yang menjadi tempat-tempat 6 (enam) lusin lotion.
Kemasan memiliki peranan yang sangat besar terhadap produk yaitu sebagai suatu alat pemasaran .Adapun Peranan kemasan menurut Ating Tejasutisna (1994 : 112) sebagai berikut :
1. Swajasa ( self service )
Semakin banyak jumlah produk yang dijual dengan cara pembeli mengambil sendiri barang yang dibutuhkannya, kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberikan kesan menyeluruh yang menguntungakan
2. Kemakmuran Konsumen ( consumer offluence )
Meningkatnya kekayaan konsumen akan berarti bahwa konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
3. Citra Perusahaan dan Merk( company and brand image )
Banyak perusahaan mengakui adanya kekuatan yang dikandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenal perusahaan atau mereknya. Contohnya: Pembeli susu bubuk cap bendera dengan cepat mengenali kemasaan dengan lambang bendera.
Peluang Inovasi ( Innovational Opportunity ) Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan juga memberikan keuntungan bagi produsen, contohnya: Inovatif kemasan biskuit Kong Guan, sangat menarik dan seolah-olah lebih berkualitas dan bergengsi bagi konsumen untuk membelinya.
Volume Penjualan menurut Albert G. Giordano (1987 :58 ) bahwa: “Volume Penjualan adalah barang jasa yang dibeli dengan berbagai harga pada suatu waktu yang ditetapkan dalam pasar “
Sedangkan menurut Winardi (1998 : 500) “Volume Penjualan adalah barang yang terjual dalam kurun waktu tertentu “
Munurut Mulyadi ( 1999 : 239 ) Pengertian ” volume penjualan adalah jumlah unit produk yang dapat dijual “
Sedangkan menurut J. Rapianto ( 1995 : 6 ) pengertian volume penjualan adalah sebagai berikut :“ Volume penjualan adalah jumlah barang yang dijual dan dikalikan harga persatuan barang tersebut. Salah satu alat ukur untuk mengukur volume penjualan adalah dengan menghitung penerimaan uang yang diterima karyawan bagian pemasaran ( khususnya bagian penjualan )”

6. Metodologi Penelitian
6.1. Metode Penelitian yang digunakan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif, yaitu hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya, sehingga akan menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

7. Lokasi dan Waktu Penelitian
7.1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada Perusahaan Galendo Doyanku Jl. Kapten Harsono Sudiro No. 60 Cilame – Ciamis

7.2 Waktu Penelitian
Lamanya penelitian dan penyusunan usulan penelitian dapat dirinci dalam jadwal sebagai berikut :
Tabel II
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No. Tahapan Penelitian Februari Maret April Mei Juni
1. Tahapan Persiapan
2. Tahapan Penelitian Kepustakaan
3. Tahapan Penelitian Lapangan
4. Tahapan Pengolahan data dan penyusunan Usulan Penelitian
5. Pengumpulan Tugas

DAFTAR PUSTAKA

Alex S. Nitesemito, 1993, Marketing, Cetakan Kedelapan, Penerbit Bahasa
Indonesia. Jakarta.
Buchari Alma, 1998, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Penerbit
CV. Alfabeta, Bandung
Basu Suwastha, Irawan, 2002, Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta, Liberty.
Basu Suwastha dan Ibnu Sukotjo, 1993. Pengantar Bisnis Modern. Edisi Ketiga.
Penerbit Liberty, Yogjakarta
Djalaludin R. 1995, Metode Penelitian Komunikasi. Bandung, PT. Roda Kerja
Djaslim Saladin, 1995. Unsur-unsur Inti Pemasaran dan Manajemen Pemasaran
Cetakan Kedua, Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung
Kotler. P, 1997, Manajemen Pemasaran, Jakarta, Prenhalindo
Kotler. P, 2000, Marketing Manajemen, 10ed, New Jersey : Pretice Hall
Kotler P, 2000, Marketing Manajemen, Millenium Edition, Englewood
Cliffs, NJ., Pretice Hall, International Inc.
Komarudin, 1974, Metode Penelitian Skripsi dan Tesis, Bandung, Angkasa
Malayu S.P. Hasibuan, 1984, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Bandung, PT. Gunung Agung
Stanton WJ., Walker BJ., 1997 Pudamental of Marketing, New York,
Mc. Graw Hill, Inc
Siswanto Sutojo, 1998, Kerangka Dasar Manajemen Pemasaran, Jakarta, PT,
Dharma Aksara Perkasa
Stanton, William J., 1991, Prinsip Pemasaran, Edisi Ketujuh, Jakarta, Erlangga
Suharsimi Arikunto, 2000, Prosedur Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta